INGATLAH.COM – Laga pekan keenam Liga Spanyol 2025-2026 antara Sevilla dan Villarreal di Stadion Ramon Sanchez-Pizjuan, Selasa lalu, menjadi sorotan tidak hanya karena hasil pertandingannya, tetapi juga karena sentimen politik yang mewarnainya.
Pemain asal Israel, Manor Solomon, menjadi penentu kemenangan Villarreal dengan mencetak gol yang membawa timnya unggul 2-1 atas Sevilla.
Namun, saat beraksi, Solomon mendapatkan sorakan keras dari sebagian penggemar Sevilla.
Kecaman Keras dari Komunitas Yahudi Spanyol
Tekanan suporter yang menyerang Solomon karena asal-usulnya memicu kecaman keras dari Federasi Komunitas Yahudi Spanyol. Mereka menilai aksi tersebut sebagai bentuk penghinaan yang tidak dapat ditoleransi.
“Penghinaan tak tertoleransi yang diterima pesepak bola Manor Solomon dari sejumlah pendukung Sevilla karena asal-usulnya sebagai orang Israel,” ujar Federasi Komunitas Yahudi Spanyol dalam pernyataan resmi.
Federasi tersebut menegaskan komitmennya untuk melawan diskriminasi.
“Kami mengecam setiap bentuk antisemitisme, rasisme, atau xenofobia, dan menegaskan kembali komitmen kami pada nilai-nilai hidup berdampingan serta kesetaraan,” lanjut pernyataan tersebut.
Konflik Gaza Membawa Sentimen ke Lapangan Hijau
Sentimen politik yang memanas di ranah sepak bola Spanyol ini dilatarbelakangi oleh konflik Israel-Palestina, terutama setelah serangan Israel di Gaza sejak Oktober 2023.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, konflik ini telah menewaskan sedikitnya 65.400 warga Palestina, mayoritas penduduk sipil.
Serangan Israel diluncurkan sebagai balasan atas serangan lintas batas kelompok militan Hamas pada Oktober 2023 yang menewaskan 1.219 orang di Israel.
Kecaman terhadap kebijakan Israel tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari kalangan politik Spanyol.
Perdana Menteri Pedro Sanchez bahkan pekan lalu menyerukan agar Israel dilarang tampil dalam ajang olahraga internasional.
Gelombang protes anti-Israel di ranah olahraga juga sempat memaksa pembatalan etape terakhir balap sepeda akbar Vuelta a Espana pada awal September, setelah adanya aksi massa yang menentang tim Israel-Premier Tech. (*)





