Ingatlah – Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, mengenang kembali pengalaman pahit saat gempa besar mengguncang Sumatera Barat pada 30 September 2009.
Menurutnya, peristiwa itu harus menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, tidak hanya di fase darurat, tetapi juga dalam rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kesaksian tersebut ia sampaikan saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitu Pasna) yang digelar BPBD Kota Padang di Hotel Kawana, Selasa (2/9/2025).
“Waktu itu saya melihat sendiri kepanikan warga. Bangunan roboh, korban berjatuhan, dan rasa cemas merata di seluruh kota. Gempa 2009 bukan hanya merusak fisik, tapi juga melukai sosial dan psikologis masyarakat,” kenang Maigus.
Pentingnya Kesiapsiagaan
Bagi Maigus, pengalaman gempa 2009 menjadi pelajaran berharga. Ia menegaskan, mitigasi kebencanaan tidak bisa hanya diukur dari seberapa cepat penanganan di masa darurat.
Yang tak kalah penting adalah bagaimana pemerintah menyiapkan langkah pemulihan setelah bencana.
“Jitu Pasna ini adalah salah satu ikhtiar agar kita lebih siap. Penanganan pasca bencana harus terukur, komprehensif, dan sesuai kebutuhan nyata masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap 35 peserta dari berbagai OPD, kecamatan, dan unsur BPBD yang mengikuti pelatihan ini dapat memanfaatkannya dengan baik.
“Pelatihan ini bukan formalitas. Saya ingin peserta betul-betul menguasai teknik Jitu Pasna, sehingga Kota Padang semakin tangguh menghadapi bencana,” tambahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menjelaskan bahwa Jitu Pasna merupakan metode yang dirancang BNPB untuk menilai kerusakan, kerugian, serta kebutuhan pasca bencana secara sistematis.
“Jitu Pasna adalah proses penting dalam mengidentifikasi kerugian sekaligus menentukan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan cara ini, perencanaan pemulihan pasca bencana bisa lebih tepat sasaran dan sesuai aturan,” jelas Hendri.
Ia menambahkan, kapasitas aparatur daerah sangat krusial karena bencana tidak hanya soal respon cepat saat kejadian, tetapi juga tentang strategi pemulihan jangka panjang.
“Kalau kita hanya sibuk di masa darurat sementara mitigasi diabaikan, kerugian akan terus berulang. Karena itu, Jitu Pasna bukan sekadar instrumen teknis, tapi bagian dari strategi mitigasi pasca bencana,” ujarnya.
Menuju Padang Tangguh Bencana
Selain membekali peserta dengan instrumen teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya mitigasi bencana.
Hal itu mencakup edukasi masyarakat, perencanaan tata ruang berbasis keselamatan, latihan evakuasi rutin, hingga pembangunan infrastruktur tahan gempa.
“Mindset aparatur harus berubah. Jangan hanya menunggu arahan pusat, tapi mampu menyusun rencana pemulihan sendiri sesuai kondisi Padang,” tutur Hendri.
BPBD Padang berencana menggelar kegiatan serupa secara berkala, melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, akademisi, hingga dunia usaha.
“Mitigasi, kesiapsiagaan, dan pemulihan adalah satu kesatuan. Jitu Pasna memberi kita kerangka kerja untuk itu,” pungkasnya.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan Kota Padang semakin siap dan tangguh menghadapi potensi bencana, serta mampu menyiapkan perencanaan pemulihan yang cepat, tepat, dan manusiawi. (*)





