INGATLAH – Menindaklanjuti maraknya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau, Polda Riau akan menindak tegas dan tidak akan mentolerir pelaku yang terindikasi melakukan pembakaran.
Hal itu ditegaskan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan saat konferensi pers perkembangan terkini karhutla di Wilayah Provinsi Riau bersama bersama Gubernur Riau Abdul Wahid, Dirjen KLH Diah Mutiara, di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Riau, Sabtu, (26/7/2025) sore.
“Dari Januari hingga Juli 2025, Polda Riau telah menangani sebanyak 40 kasus Karhutla dan menetapkan 50 tersangka, dengan catatan signifikan di bulan Juli sebanyak 36 orang,” tegas Irjen Pol Herry Heryawan.
Polisi bintang dua yang kerap disapa Herimen itu mengungkapkan pihak kepolisian akan terus mengingatkan keras terhadap para pelaku pembakaran lahan baik disengaja atau tidak sengaja.
“Modusnya sudah kami pelajari, biasanya lahan dibakar lalu dua tahun kemudian ditanami sawit. Kami tidak akan mentolerir. Penegakan hukum akan terus kami lakukan,” tegasnya.
Kapolda juga memperkenalkan langkah baru berupa pemasangan plang larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar, sebagai bagian dari penegakan hukum dan pencegahan lanjutan.
“Siapa pun yang merusak plang, ancamannya pidana. Kami serius menjaga agar lahan yang sudah terbakar tidak dimanfaatkan kembali secara ilegal,” ungkapnya.
Tak luput dari kebahagian yang dirasakannya, Kapolda mengungkapkan dengan bangga bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kekuatan utama dalam penanganan Karhutla tahun ini.
“Api kebersamaan justru semakin menyala. Ini yang memotivasi kita semua, baik aparat di lapangan maupun relawan. Kami bangga atas solidaritas ini,” tegasnya.
Ditempat yang sama, Gubernur Riau Abdul Wahid menyampaikan bahwa hingga 25 Juli 2025, total luas lahan terbakar yang berhasil dipadamkan telah mencapai 1.156 hektare.
“Kami telah mengerahkan seluruh kekuatan, dari OPD, BPBD, TNI-Polri, hingga relawan masyarakat peduli api. Kami juga dibantu Kementerian LHK, BNPB, dan BMKG yang terus melakukan operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.
Sebanyak 21.000 kilogram garam telah ditabur untuk hujan buatan dan lebih dari 900.000 liter air disiramkan melalui heli water bombing.
Sebelumnya, pantauan udara langsung bersama Kapolri Listyo Sigit Prabowo menunjukkan bahwa sebagian besar titik api telah padam, terutama di wilayah Rokan Hulu dan Rokan Hilir.
“Saat ini, operasi pendinginan masih berlangsung dengan kekuatan gabungan terdiri dari 2 pesawat, 2 heli patroli, dan 5 heli water bombing,” tambahnya.
Pemerintah Provinsi Riau bersama TNI-Polri terus mengingatkan masyarakat akan di fase penting terkhususnya di Bulan Juli dan Agustus 2025 tidak terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pihaknya akan terus terlibat dalam menjaga Riau jauh dari asap dan akan terus memperkuat pencegahan, serta mengawal pemulihan pasca kebakaran.
“Kerja belum selesai. Pastinya yang kita antisipasi pada dua bulan ini Juli dan Agustus, Tapi semangat kita tidak padam. Justru api solidaritas ini akan menjadi pondasi kuat untuk mewujudkan Riau bebas asap,” tutup Abdul Wahid.(*)





