KamparRiau

Jalan Warga Karya Indah di Kampar Terancam, Materialnya Diambil Lagi Malam Hari

×

Jalan Warga Karya Indah di Kampar Terancam, Materialnya Diambil Lagi Malam Hari

Sebarkan artikel ini

PEKANBARU – Warga Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau tengah dirundung kekecewaan.

Pasalnya, Pasir dan Batu (Sirtu) Jalan Swadaya di Desa Karya Indah yang selama ini menjadi akses vital menuju kebun dan permukiman justru dikeruk kembalu secara diam – diam.

Pantauan ingatlah.com, sebelumnya jalan itu untuk mendukung proyek Tol Trans Sumatera ruas Rengat–Pekanbaru seksi Lingkar Pekanbaru.

Informasi yang berhasil dihimpun, pengerukan dilakukan menggunakan alat berat jenis ekskavator.

Material berupa pasir dan batu (sirtu) hasil timbunan dibongkar dan ditumpuk di pinggir jalan, diduga untuk diangkut ke lokasi lain.

Aktivitas ini berlangsung hampir setiap sore dan dilanjutkan hingga malam hari, tanpa adanya pemberitahuan atau penjelasan dari pihak terkait.

“Saya heran, jalan yang sudah bagus untuk dilalui malah dibongkar. Mereka yang dulu timbun, mereka juga yang mengeruk. Untuk apa? Sampai sekarang kami tidak diberi kejelasan,” ujar Leo Sayuti, salah seorang pemilik kebun yang terdampak, Jumat (27/6/2025).

Leo yang didampingi kuasa hukumnya, Tommy Ho dan Gazalpa Putra, SH, MH, menyebut pengerukan sudah terjadi selama tiga hari terakhir.

Baca Juga  Alami Kejadian Mistis, Kakek 72 Tahun Pencari Getah di Meranti Ditemukan Selamat

“Saya heran, apakah ini pinjam pakai, kenapa dibongkar lagi. Kalau begini jalan akan hancur saat banjir,” ungkapnya.

Lebihlanjut, Tommy mengungkapkan, awalnya ada kesepakatan bahwa jalan tersebut diprioritaskan sebagai akses masyarakat.

Namun setelah proyek tol berlangsung, fungsi jalan itu justru diabaikan.

“Dulu disepakati di Kantor Desa, jalan ini untuk masyarakat. Tapi kenyataannya, setelah proyek hampir selesai, jalan malah dikeruk kembali. Katanya, materialnya dipakai untuk penimbunan proyek tol LKMD. Tapi akses kami ke kebun jadi terancam,” jelasnya.

Ia pun mempertanyakan masa depan akses warga setelah proyek tol rampung, mengingat pondasi tiang pancang telah berdiri dan pagar proyek diprediksi akan menutup jalur lama.

“Kalau jalan ini dipagar, lalu kami lewat mana? Ini satu-satunya akses ke kebun. Tidak ada kompensasi, tidak ada solusi,” tambahnya.

Leo juga menyebutkan dampak pengerukan sudah terasa secara fisik: permukaan jalan turun sekitar 70 centimeter, sehingga menyulitkan kendaraan warga terutama saat cuaca buruk.

“Kalau hujan, jalan langsung becek dan dalam. Padahal ini jalur kami bawa sawit,” katanya.

Baca Juga  Razia Narkoba di THM Duri, 7 Pengunjung Positif Ekstasi Diamankan Polisi

Kebingungan warga makin bertambah ketika diketahui bahwa penimbunan jalan sebelumnya dilakukan oleh PT RMB, namun pengerukan belakangan justru dikerjakan oleh PT TAJ.

“Yang timbun dulu PT RMB, lalu sekarang yang mengeruk PT TAJ. Tidak ada kejelasan, ini membuat warga bingung dan khawatir,” terang Sutris, warga lainnya.

Sudarmaji, petani setempat, juga mempertanyakan tujuan pengerukan. Ia sempat mendengar bahwa material dari jalan itu akan digunakan untuk menimbun sekitar 50 meter jalan di lokasi lain.

Namun ia tidak tahu di mana persisnya lokasi itu.

“Kalau jalan ini terus dikeruk, kami takut banjir. Sebelum dikorek, nggak pernah banjir. Sekarang sudah satu lutut tingginya,” ujarnya.

Warga mendesak agar aktivitas pengerukan segera dihentikan, dan pemerintah turun tangan mencari solusi yang adil.

Mereka berharap pembangunan proyek nasional tidak mengorbankan hak dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Ini bukan sekadar jalan proyek, ini akses hidup kami. Jangan dikeruk tanpa alasan. Kami tidak anti-pembangunan, kami cuma ingin dihargai,” tutup Leo tegas.(*)