INGATLAH – Kalangan ahli gizi kembali mengimbau generasi muda untuk tidak mengabaikan bahaya konsumsi daging yang berlebihan.
Meskipun daging, terutama jenis merah dan olahan, merupakan sumber protein hewani yang penting, konsumsi dalam jumlah berlebihan berisiko memicu berbagai penyakit serius.
Dalam sejumlah kajian, pola makan tinggi daging dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, kolesterol tinggi, hipertensi, hingga kanker usus besar.
Kondisi ini diperparah oleh kecenderungan anak muda yang kerap mengonsumsi makanan cepat saji tanpa memperhatikan asupan gizi yang seimbang.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, terjadi peningkatan konsumsi daging olahan pada kelompok usia 18–30 tahun dalam lima tahun terakhir.
Ironisnya, di saat bersamaan, tingkat konsumsi sayur dan buah justru menunjukkan penurunan.
Tak hanya berdampak pada kesehatan, pola konsumsi daging berlebih juga memberi dampak negatif terhadap lingkungan.
Industri peternakan disebut sebagai salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca global. Maka dari itu, memperbaiki pola makan juga menjadi kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian bumi.
Para ahli menyarankan pola makan yang lebih seimbang dengan memperbanyak asupan sayuran, buah-buahan, dan sumber protein nabati seperti tempe, tahu, serta kacang-kacangan.
Tidak berarti harus sepenuhnya berhenti mengonsumsi daging, namun penting untuk lebih bijak dalam memilih jenis dan jumlahnya.
Gaya hidup sehat seperti Meatless Monday dan pola makan flexitarian mulai mendapat perhatian generasi muda dunia.
Harapannya, tren ini juga bisa menginspirasi anak muda Indonesia untuk lebih peduli terhadap apa yang mereka konsumsi, baik demi kesehatan pribadi maupun kelestarian lingkungan. (*)





