SITUJUAH – Setiap bulan Januari, tepatnya mulai dari tanggal 15, Lapangan Chatib Sulaiman di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, selalu berubah menjadi arena pesta sepak bola tahunan.
Pesta itu semakin dikenal dengan nama Turnamen Wali Nagari Cup dan bahkan terbaru turnamen itu disponsori langsung oleh Oxygen.
Turnamen yang rutin digelar sejak beberapa tahun belakangan ini menjadi ajang berkumpulnya masyarakat, tempat bertemunya bakat lokal dan semangat kompetisi.
Namun, di balik gegap gempita acara tersebut, ada catatan pahit yang tak bisa ditutup-tutupi yaitu PS Sago Team belum pernah sekalipun menjuarai turnamen yang mereka selenggarakan sendiri.
Ironisnya, meski PS Sago Team setiap tahun menurunkan dua tim berbeda dalam turnamen ini sebagai upaya memperbesar peluang juara hasilnya tetap nihil.
Dua tim yang diturunkan seolah hanya memperbanyak kuantitas tanpa memperbaiki kualitas. Bahkan, keduanya kandas lebih awal dari yang diprediksi.
Pertanyaan pun mencuat: apa yang sebenarnya salah?
Ini bukan hanya soal teknik atau taktik, tapi juga soal manajemen dan arah pembinaan.
PS Sago Team tampak seperti tim yang lebih sibuk menjadi panitia, sibuk menyambut tamu, mengatur jadwal, dan mengelola acara, ketimbang fokus membentuk tim yang tangguh dan kompetitif.
Hasilnya? Tuan rumah tak pernah tampil sebagai pemenang di rumahnya sendiri.
Tak bisa dipungkiri, sorotan tajam juga patut diarahkan pada pengurus PS Sago Team.
Dalam empat tahun terakhir, tak terlihat ada langkah progresif dari manajemen.
Minimnya evaluasi internal, stagnasi pembinaan pemain, serta tidak adanya perubahan signifikan dalam strategi menjadi indikasi bahwa kepengurusan tim terjebak dalam zona nyaman.
Jika pengurus PS Sago Team hanya mengandalkan nama besar dan nostalgia masa lalu, tanpa inovasi dan keberanian mengambil keputusan besar, maka jangan berharap prestasi akan datang begitu saja.
Saat tim lain datang dengan semangat baru, pelatih muda, dan pola latihan modern, sementara PS Sago Team masih berkutat pada sistem lama yang sudah tak relevan.
Kini saatnya para pengurus merenung, apakah tujuan turnamen ini hanya sekadar rutinitas tahunan?
Atau memang ingin menjadikannya batu loncatan untuk membangun tim yang membanggakan Nagari Situjuah Batua?
Masyarakat tentu berharap lebih. Mereka bukan hanya ingin melihat lapangan ramai dan bendera berkibar, tetapi juga ingin merasakan euforia kemenangan dari tim sendiri.
Sebab pada akhirnya, semangat kebersamaan harus sejalan dengan semangat kompetitif.
Dan untuk itu, perubahan harus dimulai dari atas dari manajemen, dari pengurus, dan dari kesadaran untuk keluar dari siklus kegagalan.
Catatan ingatlah.com, turnamen yang dimulai pada tahun 2022 itu pertama kali dijuarai Dua Lipa FC, selanjutnya pada tahun 2023 sang juara datang dari Provinsi Riau yaitu Inhu FC.
Selanjutnya, pada tahun 2024 giliran tim asal Kota Payakumbuh yang juara yaitu Poldam FC.
Terakhir pada tahun 2025 ini, giliran tim asal Kabupaten Limapuluh Kota yang berpesta di Situjuah Batua yaitu PS Aroma.
Sementara itu, pemain, pengurus PS Sago Team dan warga hanya bisa menonton euforia itu.(*)
Penulis: Tim Redaksi
(Opini ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan sepak bola lokal Nagari Situjuah Batua. Kritik ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi serius demi kebangkitan PS Sago Team di masa mendatang.)





