PEKANBARU – Polda Riau menggelar Kajian Subuh Ilmiah yang menghadirkan tokoh nasional dan daerah dalam sebuah diskusi lintas ilmu dan spiritualitas bertema “Alam dan Kita Dalam Perspektif Agama dan Sains”.
Bertempat di Aula Tribrata lantai 5 Mapolda Riau, acara ini menjadi momen reflektif yang menyatukan pandangan agama dan sains dalam upaya merawat bumi.
Kegiatan ini digagas langsung oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Hery Heryawan, yang menekankan pentingnya sinergi antar manusia dalam menjaga lingkungan hidup.
“Ini adalah momentum mempererat hubungan sesama serta meningkatkan kualitas hidup sebagai umat Islam yang peduli lingkungan,” ujar Irjen Hery dalam sambutannya.
Acara ini menghadirkan tiga figur utama: Ustad Abdul Somad (UAS) sebagai penceramah kondang, Rocky Gerung sebagai pengamat lingkungan dan filsuf, serta Gubernur Riau Abdul Wahid.
Gubernur Abdul Wahid memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini dan menyerukan pentingnya kepemimpinan dalam menjaga alam.
“Pemimpin itu seperti pohon dahan tempat bergantung, daun tempat berteduh, batang tempat bersandar. Maka menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab kepemimpinan,” ungkapnya penuh makna.
Dalam paparannya, Rocky Gerung mengingatkan bahwa bumi sejatinya pernah mengalami kehancuran secara alami dalam sejarah panjangnya. Namun, kerusakan yang terjadi saat ini justru berasal dari manusia itu sendiri.
“Kerusakan lingkungan hari ini telah melampaui daya pulih bumi. Jika bumi yang merusak dirinya, dia bisa pulih. Tapi kalau manusianya yang merusak, itu masalah besar,” tegas Rocky.
Sementara itu, Ustad Abdul Somad mengajak peserta merenungi filosofi pohon dalam ajaran Islam. Ia menggambarkan orang beriman sebagai pohon yang tetap kokoh meski diterpa badai.
“Mari kita tanam nilai iman dan keteguhan seperti pohon, agar bumi ini kembali subur dan jauh dari kerusakan,” pesannya.
Kajian Subuh Ilmiah ini menjadi wadah dialog antara nilai spiritual dan sains, memperkuat kesadaran kolektif bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama—baik sebagai umat beragama maupun sebagai warga dunia.(*)





