Gaya Hidup

Sejarah Meriam Honisuit Senjata Peninggalan Jepang di Bengkulu Selatan

×

Sejarah Meriam Honisuit Senjata Peninggalan Jepang di Bengkulu Selatan

Sebarkan artikel ini
Meriam Honisuit [Foto: gmaps\Rizz Fozz]
Meriam Honisuit [Foto: gmapsRizz Fozz]

INGATLAH.COM – Meriam Honisuit adalah senjata buatan Inggris yang dibawa oleh Jepang ke Bengkulu saat masa pendudukan.

Jepang pertama kali menguasai Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, pada 24 Februari 1942.

Pasukan Jepang di bawah pimpinan Kolonel Kangki memasuki wilayah ini dengan membawa berbagai peralatan militer, termasuk mobil baja, truk, dan persenjataan berat.

Kedatangan mereka disambut dengan beragam reaksi oleh masyarakat, kaum politisi, serta anak-anak.

Sebagian masyarakat hanya menjadi penonton tanpa memahami situasi politik, sementara yang lain merasa cemas dan takut karena masih trauma dengan penjajahan Belanda sebelumnya.

Sepanjang tahun 1942, Jepang terus memperluas daerah kekuasaannya ke Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Pagar Alam, dan Tanjung Sakti.

Baca Juga  Sejarah Jam Gadang di Bukittinggi, Ikon Bersejarah yang Penuh Makna

Dalam upaya pertahanan, Jepang menempatkan Meriam Honisuit di berbagai titik strategis.

Bentuk dan Spesifikasi Meriam

Meriam Honisuit pertama kali ditempatkan oleh tentara Jepang di Kelurahan Belakang Gedung, Kecamatan Pasar Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.

Senjata ini digunakan sebagai pertahanan laut bagi bala tentara Jepang.

Meriam ini memiliki warna coklat tua dan terbuat dari logam besi.

Dengan panjang laras sekitar 3,4 meter, bobotnya mencapai 2,2 ton, dan memiliki kaliber 19,01 cm.

Keberadaannya menjadi saksi bisu sejarah perang di Bengkulu Selatan.

Kondisi dan Pelestarian Meriam

Pada 10 Januari 2008, atas kesepakatan antara Dinas Purbakala Provinsi Jambi dan Pemerintah Daerah Bengkulu Selatan, KODIM 0408/BS memindahkan Meriam Honisuit ke Bundaran Jalan Raya Padang Panjang Manna, Bengkulu Selatan.

Baca Juga  Pantai Sungai Suci, Pesona Alam Bengkulu yang Mirip Tanah Lot

Saat ini, meriam tersebut ditempatkan di tengah bundaran Kantor Bupati Kabupaten Manna sebagai monumen sejarah.

Meriam Honisuit kini masuk dalam daftar perawatan rutin yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Sebagai salah satu benda bersejarah yang memiliki nilai historis tinggi, meriam ini terus dilestarikan dan dijaga agar tetap menjadi saksi bisu perjuangan masa lampau.

Keberadaannya diharapkan dapat memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai sejarah perjuangan bangsa di masa penjajahan.