INGATLAH.COM – Masjid Agung Manarul ‘Ilmi Islamic Centre, Padang Panjang, Jumat (10/1/2025), dipenuhi jamaah yang hadir untuk mengikuti kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah.
Di salah satu sudut pelataran masjid, seorang pria terlihat sibuk merapikan buku-buku agama di lapak sederhananya.
Ia adalah Irfan Rifai, seorang pedagang buku keliling yang telah menempuh perjalanan panjang demi berbagi manfaat melalui dagangannya.
Buku-buku yang dijajakan Irfan beragam, mulai dari mushaf Al-Qur’an, Kitab Sirah Nabawiyah, hingga Bulughul Maram.
Harganya pun bervariasi, dari Rp12.000 hingga Rp200.000, sehingga menjangkau semua kalangan.
Dengan ramah, Irfan melayani pembeli, memberikan rekomendasi, hingga berbagi wawasan tentang buku-buku yang sering menjadi rujukan kajian Salafi.
“Yang ini Rp60.000, Pak. Mushaf ini dilengkapi terjemahan dan tafsir singkat,” ucap Irfan saat melayani salah satu pembeli.
Pria yang berdomisili di Kebon Kacang, Jakarta, ini bukan sekadar berdagang. Ia juga memanfaatkan momen pengajian besar sebagai ladang dakwah, menjadikan buku-buku yang ia jual sebagai sarana penyebaran ilmu.
Dalam sebulan, Irfan biasanya berkeliling ke 10 hingga 12 lokasi pengajian di berbagai kota besar, termasuk Makassar dan lainnya.
Meski usahanya bisa menghasilkan Rp5 juta hingga Rp10 juta per kegiatan, perjalanan ini tak selalu berjalan mulus.
Cuaca buruk, fasilitas yang minim, atau sepinya pembeli kerap menjadi tantangan. Namun, semangatnya tak pernah surut.
“Alhamdulillah, saya banyak belajar dari perjalanan ini. Bertemu banyak orang baru dan berbagi kebaikan lewat buku-buku agama sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya,” ungkapnya.
Perjalanan Hidup yang Penuh Hikmah
Irfan, yang sebenarnya lahir dengan nama Daniel di Toraja, tumbuh dalam keluarga Protestan.
Setelah kehilangan ibunya di usia empat tahun, ia diasuh oleh bibinya yang seorang mualaf.
Bibinya inilah yang mengenalkannya pada Islam hingga akhirnya ia mengganti namanya menjadi Irfan Rifai.
Namun, masa remajanya penuh gejolak. Saat SMA, Irfan sempat menjadi ateis, meragukan agama. Hidayah kembali mendatanginya, dan sejak saat itu, ia menjadikan Islam sebagai jalan hidup.
Setelah mencoba berbagai usaha, termasuk membuka bisnis laundry yang gagal, ia mantap berjualan buku-buku agama, pakaian muslim, dan parfum.
“Berdagang buku agama ini bukan sekadar bisnis, tapi juga bagian dari dakwah. Mungkin saya bukan ustaz, tapi melalui buku-buku ini, saya berharap bisa menjadi perantara hidayah bagi orang lain,” tuturnya.
Kini, di setiap perjalanannya, Irfan selalu membawa tekad untuk menyebarkan manfaat dan kebaikan.
Dengan segala tantangan yang ada, ia tetap melangkah, meyakini bahwa usaha kecilnya bisa memberi dampak besar bagi masyarakat. (*)





