Serbaneka

Mengenal Pekanbaru, Dari Sejarah Kesultanan hingga Perkembangan Ekonomi Modern

×

Mengenal Pekanbaru, Dari Sejarah Kesultanan hingga Perkembangan Ekonomi Modern

Sebarkan artikel ini
Jembatan Siak IV, Kota Pekanbaru. (Foto: Istimewa)
Jembatan Siak IV, Kota Pekanbaru. (Foto: Istimewa)

INGATLAH.COM – Dalam artikel ini Ingatlah.com akan mengulas beberapa fakta menarik yang ada di Kota Pekanbaru Riau.

Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, adalah kota terbesar di wilayah ini dan menjadi salah satu pusat ekonomi terbesar di Pulau Sumatra. Dengan pertumbuhan, migrasi, dan urbanisasi yang tinggi, kota ini terus berkembang pesat.

Berada di tepi Sungai Siak, Pekanbaru awalnya adalah sebuah kota kecil dengan pasar yang dikenal sebagai Payung Sekaki atau Senapelan.

Pada abad ke-18, wilayah ini berada di bawah pengaruh Kesultanan Siak. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, yang juga dikenal sebagai “Marhum Pekan,” secara luas dianggap sebagai pendiri Pekanbaru modern.

Pada 1762, Sultan Alamuddin Syah, Sultan Siak ke-4, memindahkan pusat kekuasaan dari Mempura ke Senapelan.

Kemudian, pada 23 Juni 1784, wilayah ini secara resmi dinamai Pekanbaru oleh Dewan Menteri Kesultanan Siak, yang terdiri dari empat datuk suku: Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar. Tanggal ini kini diperingati sebagai hari jadi Kota Pekanbaru.

Perekonomian Pekanbaru didorong oleh perdagangan dan industri minyak bumi. Kota ini dilengkapi dengan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, terminal bus antar-kota dan antar-provinsi, serta dua pelabuhan yang mendukung mobilitasnya.

Pada 2017, jumlah penduduk Pekanbaru mencapai sekitar 886.226 jiwa. Letaknya yang strategis di jalur Lintas Timur Sumatra menjadikan Pekanbaru sebagai kota kosmopolitan.

Berbagai etnis seperti Minangkabau, Orang Ocu, Melayu, Jawa, Batak, dan Tionghoa hidup berdampingan di sini.

Namun, Pekanbaru punya sejarah panjang sebelum menjadi seperti sekarang. Kota ini pernah menjadi bagian dari Kesultanan Siak dan pada 1931 masuk wilayah Kampar Kiri, dipimpin oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru.

Baca Juga  311 Hektar Lahan Terbakar di Indragiri Hulu, Begini Kata Kapolres

Selama pendudukan Jepang pada 1942, kota ini dipimpin oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Pekanbaru menjadi daerah otonom dengan status kotapraja berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatra di Medan pada 7 Mei 1946.

Pada 19 Maret 1956, status Pekanbaru berubah menjadi daerah otonom kota kecil dalam Provinsi Sumatra Tengah. Sejak 9 Agustus 1957, Pekanbaru resmi masuk wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk, dan pada 20 Januari 1959, kota ini menjadi ibu kota Provinsi Riau, menggantikan Tanjung Pinang.

Di Pekanbaru, berdiri kokoh Masjid Raya Pekanbaru, atau sering disebut Masjid Senapelan, adalah salah satu masjid tertua di Riau, bahkan di Indonesia.

Dibangun pada 1762 oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, sultan keempat Kerajaan Siak Sri Indrapura, masjid ini terus mengalami renovasi, termasuk pada 1940 ketika sebuah pintu gerbang yang menghadap timur ditambahkan.

Karena nilai sejarahnya, Masjid Raya Pekanbaru mendapat status Struktur Cagar Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017.

Selain itu, ada Perpustakaan Soeman HS, perpustakaan ini adalah perpustakaan terbesar di Riau dan salah satu yang terbesar di Indonesia.

Berlokasi di Jalan Sudirman, perpustakaan enam lantai ini diresmikan oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla pada 2008. Selain sebagai ruang baca, perpustakaan ini juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat.

Desain bangunannya yang unik, terinspirasi dari bentuk alas baca Alquran, menjadikannya salah satu ikon baru pariwisata di Pekanbaru.

Baca Juga  Nonton Bareng Film Hayya, BMM dan Bank Muamalat Ajak Warga Bangun Empati Palestina

Perpustakaan ini juga menyimpan banyak literatur terkait budaya Melayu. Nama perpustakaan ini diambil dari Soeman Hasibuan, seorang pujangga asal Riau keturunan Tapanuli, sebagai penghargaan atas jasanya.

Selain itu, ada Tari Persembahan. Riau kaya akan seni tradisional, salah satunya adalah Tari Persembahan atau Tari Makan Sirih.

Tarian ini sering ditampilkan di Pekanbaru dalam berbagai acara resmi dan kesenian, khususnya untuk menyambut tamu istimewa.

Salah satu penari akan membawa kotak berisi sirih, yang kemudian dibagikan kepada tamu sebagai tanda penghormatan.

Kuliner Khas Pekanbaru Pekanbaru juga terkenal dengan ragam kuliner khasnya. Salah satunya adalah Mi Sagu, makanan rendah gula yang cocok untuk penderita diabetes. Teksturnya kenyal dan bisa diolah dengan cara digoreng atau direbus.

Selain itu, ada juga Asam Pedas Ikan Baung, dan minuman segar seperti Es Laksamana Mengamuk yang terbuat dari buah kweni, santan, dan gula merah.

Tak ketinggalan kuliner lainnya seperti Gulai Belacan, Gulai Siput, Miso, Ikan Asap Selais, dan berbagai kue tradisional.

Destinasi Wisata Pekanbaru Ada banyak tempat wisata menarik di Pekanbaru, seperti Balai Adat Melayu Riau di Jalan Diponegoro, Gedung Taman Budaya Riau di Jalan Sudirman, dan Museum Sang Nila Utama yang menampilkan koleksi benda bersejarah dan budaya Riau.

Anjung Seni Idrus Tintin dan Taman Wisata Alam Mayang juga menjadi tempat favorit wisatawan.

Desa Wisata Okura, yang dikenal dengan pemandangan alamnya yang asri dan budaya suku asli Melayu Riau, juga menjadi destinasi yang wajib dikunjungi di Pekanbaru. (*)