SolokBeritaSumbar

Banjir Bandang Solok, BWS Sumatra V Normalisasi Sungai Sepanjang 2 Km

×

Banjir Bandang Solok, BWS Sumatra V Normalisasi Sungai Sepanjang 2 Km

Sebarkan artikel ini
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban banjir bandang di Solok, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis, 24 September 2026. ANTARA/HO-SARPadang
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban banjir bandang di Solok, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis, 24 September 2026. ANTARA/HO-SARPadang

INGATLAH.COM – Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang terus melakukan normalisasi alur sungai yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Sedimentasi parah membuat sejumlah aliran sungai menyempit hingga nyaris tidak terlihat.

Kepala BWS Sumatera V Padang, Reski Wahyudi, mengatakan normalisasi dilakukan pada alur sungai sepanjang sekitar 2 kilometer. Kondisi aliran sungai tersebut berubah drastis setelah diterjang banjir bandang pada Senin (21/9/2026).

“Penanganan pengembalian alur sungai sepanjang dua kilometer dari lebar eksisting enam meter, sekarang tidak terlihat lagi alirannya,” kata Reski di Kabupaten Solok, Kamis (24/9/2026).

Material berupa sedimen, batu, dan kayu terbawa arus dan menutupi aliran sungai yang berada di sekitar Pusat Pemerintahan Kabupaten Solok.

Menurut Reski, sedimentasi yang cukup parah berpotensi meningkatkan risiko banjir bandang susulan apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.

Untuk penanganan awal, BWS Sumatera V menargetkan normalisasi dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu. Empat unit alat berat dikerahkan untuk mempercepat proses pengerjaan di kawasan sungai.

Baca Juga  Angin Puting Beliung Terjang Agam, Atap Rumah Warga Rusak

Selain alur sungai, BWS Sumatera V juga menangani sedimentasi yang menyumbat gorong-gorong di ruas jalan provinsi Padang-Solok.

Pengerukan telah dilakukan, namun prosesnya belum optimal karena material sedimentasi terus terbawa dari kawasan hulu.

Untuk membantu proses pengerukan, tiga unit pompa digunakan untuk mengeringkan genangan. Dengan kondisi yang lebih kering, alat berat diharapkan dapat menggali material batu dan kayu yang menyumbat gorong-gorong.

Reski mengatakan sedimentasi menjadi tantangan utama dalam proses penanganan karena material dari hulu terus bergerak ke bagian bawah sungai.

“Kami ada sampling di beberapa titik yang kita gali hari ini, dalam hitungan hari itu terisi lagi. Jadi sedimen ini terus turun ke bawah, sehingga kita harus kendalikan dulu di hulunya,” ujarnya.

BWS Sumatera V menyiapkan langkah penanganan jangka panjang untuk mengurangi aliran material sedimen dari kawasan hulu.

Baca Juga  Pengungsi Banjir di Padang Berkurang, Pindah ke Huntara

Salah satunya melalui pembangunan infrastruktur pengendali sedimen atau sabo dam. Pembangunan fisik fasilitas tersebut ditargetkan mulai dilakukan pada November 2026.

Saat ini, BWS Sumatera V masih menyelesaikan persiapan dan kajian teknis. Tim lidar juga telah diterjunkan untuk melakukan pemetaan kawasan hulu sungai.

“Beberapa hari ini kita coba rampungkan persiapan dan kajiannya, karena tim lidar telah turun juga ke daerah hulu sungai,” kata Reski.

Reski menyebut rentetan bencana alam yang terjadi menyebabkan kapasitas aliran sungai di sejumlah wilayah mengalami penurunan signifikan.

Sedimentasi membuat kapasitas aliran sungai rata-rata berkurang sekitar 30-40 persen.

Karena itu, selain penanganan fisik, BWS Sumatera V mendorong langkah mitigasi dengan memperketat penerapan aturan mengenai sempadan sungai.

Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau tidak membangun permukiman di kawasan sempadan sungai. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko ketika debit air meningkat dan sungai kembali meluap.