INGATLAH.COM – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau membutuhkan sinergi seluruh pihak.
Maka dari itu, pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi terkait, masyarakat hingga pelaku usaha diminta memperkuat kolaborasi untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran.
Hal itu disampaikan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Provinsi Riau yang mengusung tema Sinergi dan Kolaborasi Pelaku Usaha dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau, di Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).
Rapat tersebut dihadiri Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo, Ketua DPRD Riau Kaderismanto, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Riau I Dewa Gede Wirajana, Ketua Pengadilan Tinggi Riau Diah Sulastri Dewi, jajaran PJU Polda Riau, serta Kalaksa BPBD dan Damkar Riau M. Edy Afrizal.
Hadir pula Kepala BMKG dan 113 pimpinan perusahaan yang beroperasi di Provinsi Riau.
Dalam sambutannya, Kapolda menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri.
Menurutnya, langkah antisipasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemantauan melalui satelit hingga pengerahan pasukan darat ke lokasi kebakaran.
“Antisipasi secara satelit, kita memastikan dengan melihat langsung bahwa apa yang terjadi dan apa yang nanti kita lakukan menangani kejadian. Kita melakukan pasukan darat kita yang langsung menuju lokasi yang berupaya,” ujar Herry.
Ia menilai dukungan pemerintah daerah dan dunia usaha sangat penting, terlebih kondisi karhutla yang terjadi saat ini membutuhkan penanganan luar biasa.
“Jadi saya senang tadi ketika kita di atas udara tadi Pak Pangdam menyampaikan ke saya, tidak bisa kita sendiri-sendiri. Kita butuh uluran tangan Pak Gubernur untuk memberikan sumbangsihnya, bukan hanya material,” katanya.
Menurut Herry, kehadiran para pemangku kepentingan dalam rapat tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap upaya penanganan karhutla.
“Minimal Pak Gubernur hadir di sini, meninggalkan acara, saya sudah senang. Karena ini lebih kejadian luar biasa, extraordinary,” lanjutnya.
Kapolda juga mengapresiasi kehadiran 113 pimpinan perusahaan. Ia meminta para pelaku usaha memahami bahwa pencegahan dan penanggulangan karhutla membutuhkan komitmen serta kerja bersama.
“Kita senang dan bangga kepada Bapak Ibu semua sebagai perwakilan atau pimpinan perusahaan sudah bisa hadir dan mendengar langsung apa yang tadi disampaikan oleh Bapak Presiden. Itu nggak main-main,” tegasnya.
Ia menambahkan, penegasan Presiden terkait penanganan karhutla harus menjadi kekuatan dan pedoman bersama bagi seluruh pihak.
“Penegasan yang disampaikan oleh Presiden itu serius dan ini menjadi kekuatan kita bersama, menjadi perintah bahwa kita yang hadir di sini harus bisa bersinergi,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Kapolda juga menyampaikan perkembangan terbaru kondisi karhutla di Riau.
Hujan yang turun sejak malam sebelumnya turut membantu menekan jumlah titik panas.
“Dapat saya laporkan bahwa hari ini Alhamdulillah berkat doa kita bersama dan berkat upaya-upaya kolaborasi yang sudah kita lakukan bersama, terutama pasukannya Pak Danlanud, Pak Edi BPBD, dari tadi malam sudah turun hujan,” katanya.
Berdasarkan pemantauan pada pagi hari, masih terdapat 79 titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Riau.
“Jadi total untuk hari ini ada 79 titik panas hotspot. Ya tinggal 79 titik panas. Kemarin empat hari yang lalu ketika kedatangan Bapak Presiden sampai 600 sekian titik panas hotspot. Berarti capaian luar biasa,” jelasnya.
Salah satu wilayah yang sebelumnya menjadi perhatian utama adalah Kabupaten Pelalawan, khususnya Kecamatan Kerumutan. Luas lahan yang terdampak kebakaran sebelumnya mencapai sekitar 900 hektare.
“Dan yang paling banyak itu ada di Kabupaten Pelalawan di Kerumutan. Di Kerumutan hampir 900 hektare, 800 sekian,” ujarnya.
Pasukan darat masih melakukan penyisiran untuk menemukan sumber atau kepala api. Sebelumnya, jarak pasukan dengan titik api disebut mencapai sekitar satu kilometer.
“Itu upaya dari pasukan darat mencari kepala api, belum ketemu kepala apinya. Dan laporan dari Dansat Brimob, Kapolres kemarin kepada saya, karena sudah malam mereka harus kembali, takut hari mau keluar. Jarak pasukan darat ke titik api tersebut, ke kepala api tersebut, sudah sekitar 1 km,” katanya.
Kapolda berharap upaya penanganan terus dilakukan pasukan gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api serta perusahaan yang berada di sekitar wilayah terdampak.
“Dan mudah-mudahan kita doakan bersama pasukan gabungan kita. Dari TNI, dari Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api. Dari pihak-pihak perusahaan yang selama ini sudah membantu, RAPP, Sinarmas, mana lagi yang ada di sekitar lokasi tersebut,” tuturnya.
Dukungan peralatan, termasuk alat berat, juga telah dikerahkan. Selain pemadaman, pembangunan sekat kanal dan penyediaan sumber air dinilai penting untuk mengantisipasi kebakaran, terutama di wilayah gambut.
“Bantuan-bantuan alat berat sudah digerakkan, mudah-mudahan hari ini walaupun di Kerumutan itu sudah padat, kita bisa tetap membuat sekat kanal, kita tetap harus bisa menggali sumber-sumber sebagai sumber air kita semua,” katanya.
Berdasarkan pembaruan kondisi pukul 08.00 WIB, titik panas masih ditemukan di sejumlah kabupaten.
Sebanyak 13 titik panas terpantau di Kabupaten Siak dengan kategori medium. Titik panas juga masih ditemukan di wilayah Indragiri Hilir.
Untuk memperkuat penanganan, pengerahan pasukan darat akan disesuaikan dengan wilayah yang membutuhkan dukungan.
“Tadi saya sudah sampaikan ke Pak Pangdam untuk pasukan darat kita, untuk kita geser ke sana. Juga hari ini Pak Wakapolda geser ke Siak, kita lakukan bersama-sama,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi di Kerumutan menunjukkan perkembangan positif. Dari luasan yang sebelumnya mencapai sekitar 900 hektare, wilayah tersebut dilaporkan sudah tidak memiliki titik api aktif.
“Nah Alhamdulillah yang 900, karena upaya pemadaman, upaya OMC terus menerus, Alhamdulillah yang 900 hektare di Kerumutan sudah zero,” katanya.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur, termasuk pasukan di lapangan dan dukungan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan saat kebakaran terjadi. Pemerintah dan aparat juga menyiapkan langkah pencegahan agar wilayah yang pernah terbakar tidak kembali menjadi lokasi kebakaran.
Salah satunya di kawasan Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar. Meski kondisi di lokasi telah dinyatakan clear, terdapat rencana pembangunan sumur bor sebagai sumber air untuk mengantisipasi kebakaran di kemudian hari.
“Walaupun sudah clear, Pak Pangdam menyampaikan kita buat sumur bor di Rimbo Panjang ini. Mana tahu, suatu saat atau tahun depan muncul lagi di situ, sumber airnya kita sudah ada dan memang harus kita antisipasi,” ungkapnya.
Selain pencegahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran juga terus dilakukan. Di Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir, polisi telah menetapkan satu tersangka terkait kebakaran lahan seluas sekitar 30 hektare.
“Ada satu tersangka yang kita lakukan menegakkan hukum. Ada 30 hektare yang dibakar. Itu terjadi 2-3 minggu yang lalu,” katanya.
Kapolda menjelaskan, proses penanganan perkara membutuhkan waktu karena penyidik masih melengkapi keterangan ahli dan melakukan pemeriksaan langsung di lokasi kejadian.
“Karena proses lama dari keterangan ahli. Ahli harus datang ke Jakarta, ahli harus datang langsung ke TKP, kita bawa ke TKP,” jelasnya.
Untuk memperkuat pencegahan, Kapolda juga meminta koordinasi lintas sektor dilakukan terkait pemasangan kembali patok atau tanda batas di wilayah yang rawan maupun pernah mengalami kebakaran.
Menurutnya, sekitar 500 patok telah dibuat pada tahun sebelumnya. Namun, adanya perubahan dasar aturan membuat pemasangan berikutnya perlu disesuaikan.
“Jadi Pak Gubernur, harapan kami kita mulai saat ini, karena patok yang kita buat tahun lalu lima ratus sekian,” katanya.
Ia meminta Ditreskrimsus Polda Riau berkoordinasi kembali agar pemasangan patok dapat dilakukan di sejumlah lokasi yang saat ini maupun sebelumnya mengalami kebakaran.
“Saya minta tolong Pak Ditreskrimsus, kalau bisa koordinasi lagi dengan Pak Job untuk bisa kita membuat lagi pelang-pelang di lokasi yang saat ini terbakar,” ujarnya.
Patok tersebut diharapkan menjadi penanda permanen sehingga pengawasan terhadap wilayah rawan karhutla dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Kita buat patok tersebut menjadi patok seumur hidup,” tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut menjadi langkah bersama untuk memperkuat penanganan karhutla di Riau, mulai dari pemadaman, operasi modifikasi cuaca, pengerahan personel dan peralatan, penyediaan sumber air, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.





