RiauPekanbaru

Suasana Haru Pecah di Masjid An Nur, 3 Perempuan Mantap Ucap Syahadat

×

Suasana Haru Pecah di Masjid An Nur, 3 Perempuan Mantap Ucap Syahadat

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Masjid Raya An Nur Provinsi Riau kembali menjadi saksi bisu sebuah momen penuh haru pada Jumat, 24 Juli 2026.

Tiga perempuan dari latar belakang berbeda, namun dengan satu tujuan yang sama, mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan ratusan jamaah.

Mereka adalah Santi Mardalena Duha (24), Ivonne Kamppainen Kelinduan (13), dan Elizabeth Kamppainen Kelinduan (12).

Tiga nama, tiga cerita, tetapi bertemu dalam satu titik yaitu keyakinan.

Sebelum prosesi dimulai, pembimbing mualaf Ustaz Ir. H. Rubianto mengajak ketiganya berbincang.

Satu per satu, mereka mengungkapkan alasan yang membawa mereka hingga ke titik ini.

Santi, perempuan dewasa, menemukan ketenangan dalam ibadah salat.

Baginya, Islam adalah jawaban dari pencarian batin yang panjang.

Baca Juga  Gambut Dalam, Air Terbatas! 70 Personel Jibaku 10 Jam Jinakkan Karhutla Rimbo Panjang

Sementara Ivonne, siswi muda, mengenal Islam dari kisah para nabi yang diceritakan ayahnya.

Cerita sederhana itu justru menjadi pintu masuk menuju keyakinan.

Di sisi lain, Elizabeth, sang adik, mengikuti jejak yang sama.

Dari cerita sang ayah, ia menemukan ketertarikan yang tumbuh menjadi keyakinan.

Tiga cerita ini menunjukkan bahwa jalan menuju iman bisa berbeda-beda.

Ada yang melalui pencarian panjang, ada pula yang tumbuh dari lingkungan keluarga.

Saat prosesi syahadat dimulai, suasana menjadi semakin haru.

Santi tak mampu menahan tangis, sementara Ivonne dan Elizabeth melafalkan syahadat dengan lancar.

Jamaah yang menyaksikan tampak terdiam, larut dalam suasana.

Beberapa di antaranya terlihat meneteskan air mata.

Begitu prosesi selesai, gema takbir menggema di seluruh masjid. Suasana berubah menjadi penuh syukur.

Baca Juga  Begini Kata Jop van der Avert Jelang Laga PSIM vs Persebaya Surabaya

Pembimbing mualaf kemudian memberikan pesan penting.

Ia mengingatkan bahwa Islam bukan hanya tentang keyakinan, tetapi juga tentang akhlak dan hubungan dengan sesama.

Ketiga mualaf itu pun menerima pesan tersebut dengan penuh kesadaran.

Sebagai bentuk dukungan, jamaah memberikan santunan serta perlengkapan ibadah.

Bantuan itu menjadi simbol bahwa mereka tidak sendiri dalam perjalanan baru ini.

Hari itu, Masjid Raya An Nur menjadi saksi pertemuan tiga hati dalam satu keyakinan.

Kisah mereka menjadi pengingat bahwa hidayah bisa datang dengan cara yang tak terduga.

Dan di tengah haru yang menyelimuti, tiga perempuan itu melangkah ke kehidupan baru sebagai seorang Muslim, membawa harapan, doa, dan keyakinan yang baru.