INGATLAH.COM – Sekretaris Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Riau, Supriadi, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang tak dikenal, Minggu (5/7/2026)
Hal itu terjadi di kawasan Jalan Bangau Sakti, Kecamatan Bina Widya, Kota Pekanbaru.
Peristiwa yang disebut melibatkan sekitar delapan hingga sepuluh orang tersebut kini telah dilaporkan ke Polda Riau.
Polisi pun memastikan laporan telah diterima dan saat ini tengah ditindaklanjuti melalui proses penyelidikan.
Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Riau, AKBP Rudi A. Samosir, membenarkan adanya laporan dugaan pengeroyokan tersebut.
“Benar. Lagi lidik (penyelidikan),” ujar AKBP Rudi saat dikonfirmasi, Senin (6/7).
Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: LP/B/373/VII/2026/SPKT/POLDA RIAU, laporan dibuat oleh Gusti Pardamean (25), mahasiswa yang juga menjabat sebagai Sekretaris PMII Kota Pekanbaru.
Dalam laporan itu disebutkan, dugaan pengeroyokan terjadi sekitar pukul 16.15 WIB di Jalan Bangau Gang Sejahtera, Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Bina Widya, Kota Pekanbaru.
Menurut keterangan pihak PMII, sebelum insiden terjadi, Supriadi bersama sejumlah rekannya mengikuti diskusi di Cafe Forkae, Jalan Bangau Sakti, sekitar pukul 14.30 WIB.
Setelah kegiatan berakhir, rombongan kemudian berpindah ke Kedai Sampuran yang masih berada di kawasan yang sama.
Namun, suasana yang semula kondusif berubah mencekam.
Gusti Pardamean mengungkapkan, tidak lama setelah mereka tiba di lokasi, sekelompok orang tak dikenal datang dan diduga langsung melakukan penyerangan terhadap Supriadi.
“Tidak lama setelah berada di Kedai Sampuran, sekitar 10 orang tidak dikenal datang secara tiba-tiba dan langsung melakukan penyerangan serta pengeroyokan terhadap Supriadi.
Para pelaku juga diduga membawa senjata api,” kata Gusti.
Akibat kejadian tersebut, Supriadi dilaporkan mengalami sejumlah luka dan kasus itu langsung dilaporkan ke kepolisian untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Lebih jauh, Gusti menduga insiden yang dialami rekannya bukan merupakan tindak kriminal biasa.
Menurutnya, dugaan pengeroyokan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara PMII dan aparat kepolisian dalam beberapa hari terakhir.
Ia mengungkapkan, dua kader PMII berinisial P dan S sebelumnya juga mengaku mengalami dugaan tindakan kekerasan saat mendatangi Polresta Pekanbaru pada 3 Juli 2026.
Kedatangan keduanya saat itu bertujuan mengantarkan surat pemberitahuan rencana aksi unjuk rasa.
Menurut Gusti, kedua kader tersebut diduga mendapat perlakuan represif dari sejumlah oknum di pos penjagaan. Bahkan, salah seorang di antaranya disebut mengalami tindakan kekerasan hingga kepalanya dihempaskan ke lantai.
“Tindakan itu sebagai bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan dalam negara hukum. Tindakan tersebut memang betul tidak manusiawi, tanpa ada rasa kasihan sedikit pun, seolah bukan seperti perlakuan manusia,” tegasnya.
PMII menilai dugaan tindakan represif terhadap warga yang datang secara baik-baik ke kantor kepolisian bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia serta berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.
Hingga berita ini ditulis, Polda Riau masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi lengkap, identitas para terduga pelaku, serta motif di balik dugaan pengeroyokan tersebut.
Sementara itu, belum ada keterangan resmi dari pihak yang disebut dalam dugaan tersebut mengenai tudingan yang disampaikan PMII.





