UtamaNasionalSumbar

Promosi Doktor, Indra Ariffin Perkenalkan Metode Malalu untuk Musik Spiritual Kontemporer

×

Promosi Doktor, Indra Ariffin Perkenalkan Metode Malalu untuk Musik Spiritual Kontemporer

Sebarkan artikel ini
Promosi Doktor, Indra Ariffin Perkenalkan Metode Malalu untuk Musik Spiritual Kontemporer
Seniman sekaligus akademisi, Indra Ariffin.(ist)

INGATLAH.COM – Dunia seni pertunjukan dan musik kontemporer Indonesia baru-baru ini kembali mencatat tonggak penting.

Seniman sekaligus akademisi, Indra Ariffin, resmi mempresentasikan disertasi karya seni berjudul Tarekat Bunyi: Perwujudan Metode Malalu dalam Komposisi Musik Spiritual Minangkabau.

Disertasi itu disampaikan dalam Ujian Terbuka Pertanggungjawaban Karya Seni dan Promosi Doktor Program Studi Seni Program Doktor Pascasarjana ISI Surakarta.

Ujian terbuka itu berlangsung di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, ISI Padang Panjang, Sumatera Barat, Rabu, 13 Mei 2026.

Hal itu menjadi panggung lahirnya sebuah gagasan baru dalam penciptaan musik spiritual berbasis kearifan lokal Minangkabau.

Melalui karya Tarekat Bunyi, Indra Ariffin menggali konsep malalu, istilah dalam budaya Minangkabau yang menggambarkan kondisi keterlarutan intuitif antara bunyi, tubuh, dan kesadaran.

Konsep tersebut kemudian dirumuskan sebagai pendekatan estetika sekaligus metode artistik baru dalam penciptaan musik transendental.

“Metode malalu lahir dari upaya memahami bunyi bukan sekadar objek estetis, tetapi sebagai pengalaman batin yang menghubungkan tubuh, kesadaran, dan spiritualitas,” ungkap Indra Ariffin dalam pemaparannya.

Baca Juga  Dua Pelajar SD Sungai Limau Harumkan Padang Pariaman di Ajang Provinsi dan Nasional

Berbeda dengan metode komposisi musik konvensional yang cenderung bertumpu pada logika struktural dan rasionalitas formal, metode malalu menempatkan pengalaman batin, intuisi, serta kesadaran spiritual sebagai sumber utama pengetahuan artistik.

Indra juga menjelaskan, disertasinya bertujuan merekonstruksi nilai-nilai musikal dalam praktik tarekat Minangkabau sekaligus menawarkan pendekatan baru dalam pengembangan musik spiritual kontemporer.

Karya tersebut juga diharapkan membuka ruang pengalaman mendengar yang lebih reflektif dan kontemplatif melalui lanskap bunyi yang imersif.

Dalam proses penciptaannya, Indra mengembangkan metode malalu melalui lima unsur utama, yakni baratik (pengulangan ritmis), badarun (resonansi kolektif), laruik (keterhanyutan musikal), buah kato (kekuatan spiritual kata dan vokal), serta antak (aksentuasi emosional intuitif).

Kelima unsur itu saling terhubung untuk membangun pengalaman musikal yang spiritual, intuitif, dan kolektif.

Secara artistik, karya ini memadukan berbagai unsur musik tradisi Minangkabau seperti salawat dulang, barzanji, ratik, dikie, hingga kucapi pakiah geleng dengan pendekatan musik eksperimental, visual pertunjukan, dan instrumen bunyi rakitan.

Pertunjukan dibangun melalui tiga tahapan utama dalam tasawuf, yakni Takhalli sebagai proses pembersihan diri, Tahalli sebagai pengisian nilai spiritual, dan Tajalli yang merepresentasikan pengalaman kehadiran Ilahi.

Baca Juga  Anjungan Seni Idrus Tintin Pusat Seni Budaya Melayu di Pekanbaru

Temuan utama dalam disertasi tersebut adalah lahirnya metode malalu sebagai tawaran baru dalam penciptaan musik transendental.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penciptaan seni tidak selalu harus berangkat dari pendekatan rasional dan formal, tetapi juga dapat bertumpu pada pengalaman spiritual, pengetahuan implisit (tacit knowledge), serta keterhubungan antara bunyi, tubuh, dan kesadaran.

“Temuan ini diharapkan membuka kemungkinan baru bahwa praktik penciptaan musik kontemporer dapat tumbuh dari akar tradisi lokal sekaligus menawarkan pengalaman artistik yang lebih reflektif dan transendental,” jelasnya.

Metode tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas dalam praktik musik kontemporer maupun seni bunyi di masa mendatang.

Ujian terbuka ini sekaligus menjadi penanda penting bagi perkembangan kajian seni berbasis spiritualitas lokal di Indonesia, terutama dalam memperkuat posisi tradisi sebagai sumber inovasi dalam musik kontemporer dan seni pertunjukan.