PADANG – Harapan Semen Padang FC untuk meraih poin penuh pada pekan ke-28 Liga Super Indonesia musim 2025/2026 harus pupus.
Tim berjuluk Kabau Sirah itu takluk 0-2 dari tamunya Persijap Jepara dalam laga kandang yang berlangsung tanpa kehadiran suporter di tribun stadion.
Sejak peluit awal dibunyikan, Semen Padang FC justru kesulitan mengembangkan permainan.
Persijap tampil lebih agresif dan berani menekan, sementara tuan rumah lebih banyak bertahan serta kerap kehilangan bola di sektor tengah akibat kesalahan umpan.
Dominasi tim tamu akhirnya berbuah hasil pada menit ke-35. Rendi Saepul sukses memecah kebuntuan setelah memanfaatkan celah di lini pertahanan Kabau Sirah dan menaklukkan penjaga gawang Arthur Augusto.
Alih-alih bangkit, Semen Padang FC kembali mendapat tekanan. Pada menit ke-42, pelanggaran Baubakary Diarra di dalam kotak penalti membuat wasit menunjuk titik putih.
Henrique Franca yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna dan menggandakan keunggulan Persijap menjadi 2-0 hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, pelatih Imran Nahumaruri mencoba mengubah jalannya pertandingan dengan melakukan tiga pergantian sekaligus.
Jame Andres Giraldo, Ripal Wahyudi, dan Kasim Botan dimasukkan untuk menambah daya gedor tim.
Perubahan tersebut membuat Semen Padang FC tampil lebih menyerang. Sejumlah peluang berhasil diciptakan, termasuk kesempatan emas Froese pada menit ke-51, namun tendangannya masih melebar dari sasaran.
Upaya demi upaya terus dilakukan, tetapi rapatnya lini belakang Persijap membuat tuan rumah gagal mencetak gol balasan.
Hingga peluit panjang berbunyi, skor 0-2 tetap bertahan. Kekalahan ini semakin menambah tekanan bagi Semen Padang FC yang masih berjuang keluar dari papan bawah klasemen.
Atmosfer pertandingan juga terasa berbeda dari laga kandang sebelumnya. Tribun stadion tampak lengang tanpa kehadiran kelompok suporter utama seperti Spartaks dan UHS.
Absennya dukungan bukan karena sanksi, melainkan aksi boikot yang dilakukan para pendukung.
Tak terdengar dentuman drum maupun chant khas yang biasanya menggema di Stadion Haji Agus Salim.
Dukungan baru terdengar pada pertengahan babak kedua, namun berasal dari luar stadion.
Para suporter memberikan semangat sekaligus melontarkan kritik keras kepada manajemen klub yang dinilai menjadi penyebab keterpurukan tim musim ini.
Kekalahan ini bukan hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga menjadi gambaran situasi sulit yang tengah dihadapi Kabau Sirah baik dari sisi performa tim maupun hubungan dengan suporternya.





