Ini adalah kisah perjalanan saya bersama istri ke Pulau Bengkalis, mengunjungi rumah kerabat istri di Pangkalan Batang Barat.
Saya berangkat dari Pekanbaru pada hari kedua Lebaran, Minggu pagi sekitar pukul 08.00 WIB, menggunakan sepeda motor, dan tiba sekitar pukul 12.40 WIB.
Kebetulan, antrean kapal di Sungai Pakning tidak terlalu padat, sehingga perjalanan berlangsung relatif lancar dan tepat waktu.
Hari kedua Lebaran di Bengkalis memberi saya pengalaman yang hangat sekaligus reflektif.
Sepanjang perjalanan menyusuri jalan-jalan kampung, saya menyaksikan sesuatu yang tidak sekadar visual, tetapi juga sarat makna sosial: lampu-lampu colok yang berjajar rapi di pelantaran rumah, di tepi jalan, hingga di halaman masjid.
Cahaya kuningnya berkelip sederhana namun memikat seolah menyapa setiap orang yang melintas.

Saya sempat bertanya-tanya, bagaimana dengan biaya pembuatan lampu colok yang tampak begitu masif ini? Mulai dari pengadaan bahan bakar hingga kaleng-kaleng bekas yang digunakan sebagai wadah yang menambah keindahannya.
Namun, terlepas dari biaya dan waktu yang dikorbankan, masyarakat tidak memandangnya sebagai beban pengeluaran. Sebaliknya, ini dianggap sebagai bagian dari kebanggaan kolektif sebuah ajang kompetisi antar RT, RW, dusun, bahkan antar masjid dalam menampilkan keindahan.
Fenomena ini, bagi saya, mengingatkan pada tradisi Pacu Jalur. Di sana, masyarakat menghabiskan waktu berbulan-bulan mempersiapkan perahu jalur, menyusun strategi, bahkan mendatangkan atlet dari luar, demi memenangkan perlombaan.
Hadiah yang diperoleh sering kali tidak sebanding secara ekonomi dengan biaya yang dikeluarkan. Namun, praktik ini tidak bisa dilihat semata dari kacamata ekonomi. Ia harus dipahami dalam kerangka sosial, budaya, religius, dan terutama estetika kolektif masyarakat.
Demikian pula dengan lampu colok di Bengkalis. Ia bukan sekadar ornamen, tetapi telah menjelma menjadi penanda kultural ekspresi kolektif dalam menyambut hari kemenangan. Baik di Kecamatan Bengkalis maupun Kecamatan Bantan, tradisi ini terasa hidup, mengakar, dan diwariskan tanpa perlu instruksi formal.
Namun, yang lebih menarik perhatian saya bukan hanya cahaya lampu itu, melainkan dinamika sosial yang mengiringinya sebuah tradisi yang mereka sebut “rombongan”.
Di sini, Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai silaturahmi individual, tetapi sebagai praktik kolektif. Rombongan biasanya berbasis RT, RW, atau dusun. Mereka berjalan bersama dari rumah ke rumah secara bergantian.
Hari pertama bisa delapan rumah, hari kedua sepuluh rumah, dan seterusnya, tergantung pada kesepakatan sebelumnya. Ada ritme sosial yang terbangun, seolah-olah seluruh kampung bergerak dalam satu pola yang sama, baik di kecamatan Bengkalis maupun di Bantan.
Saya membayangkan seseorang sebut saja Arifin. Ketika ia ikut dalam rombongan mengunjungi rumah orang lain, maka pada waktunya ia juga akan menjadi tuan rumah yang dikunjungi. Di sini terdapat prinsip timbal balik yang tidak tertulis, tetapi dipahami bersama. Rombongan bukan sekadar kunjungan, melainkan mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan relasi antarwarga.
Di salah satu rumah yang saya kunjungi, saya duduk bersama warga yang tengah bercengkerama. Hidangan tersaji berlimpah mulai dari kue-kue, minuman, hingga makanan berat; saya pun sempat mencicipi roti canai. Namun, percakapanlah yang menjadi inti dari pertemuan itu.
Mereka saling bertukar kabar, membicarakan keluarga, hingga berbagi informasi tentang peluang kerja. Menariknya, topik merantau ke Malaysia muncul berulang kali dalam obrolan mereka.
Dari percakapan itu, saya menangkap satu realitas ekonomi yang cukup kuat. Banyak dari mereka yang bekerja atau pernah bekerja di Malaysia. Upah buruh serabutan di sana disebut-sebut bisa mencapai 100–150 Ringgit Malaysia per hari, atau sekitar Rp330.000 hingga Rp500.000 per hari (tergantung kurs).
Angka yang, bagi sebagian masyarakat desa, tentu sangat menggiurkan.
Di titik ini, saya melihat bahwa tradisi rombongan bukan hanya ruang sosial, tetapi juga ruang pertukaran informasi ekonomi. Ia menjadi medium di mana jaringan sosial berfungsi sebagai modal untuk mobilitas baik sosial maupun ekonomi. Kepercayaan dibangun, relasi diperkuat, dan peluang disebarkan.
Di sisi lain, saya juga mengamati perubahan mencolok pada lanskap fisik permukiman. Rumah-rumah di Bengkalis kini cenderung besar, luas, dan didominasi material semen dengan atap seng. Halaman tertata rapi, dihiasi bunga-bunga, memberikan kesan modern dan mapan.
Rumah panggung tradisional masih ada, tetapi jumlahnya semakin berkurang lebih banyak dijumpai di wilayah pesisir dan kawasan sub-urban Bantan atau beberapa titik tertentu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa modernisasi telah menggeser preferensi arsitektur masyarakat. Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol status sosial dan kesiapan menjadi tuan rumah dalam tradisi rombongan.
Dari hasil wawancara dengan beberapa orang yang Saya temui bahwa ada standar tidak tertulis bahwa rumah ideal adalah rumah yang mampu menampung 30–50 orang sekaligus.
Tradisi rombongan, dalam hal ini, menjadi salah satu faktor pendorong perubahan tersebut. Rumah yang kecil dianggap kurang layak, karena tamu bisa saja harus duduk di luar.
Padahal, dalam pandangan lokal, “tamu adalah raja” dan juga pembawa rezeki. Maka, membangun rumah besar menjadi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan sosial.
Namun di balik itu, ada ironi yang tidak bisa diabaikan. Secara ekologis, Bengkalis merupakan wilayah yang rentan terhadap banjir baik akibat curah hujan tinggi maupun luapan air laut. Dalam konteks ini, rumah panggung sebenarnya adalah bentuk adaptasi ekologis yang cerdas.
Nenek moyang telah merancang rumah dengan ventilasi yang baik, material kayu yang “bernapas”, serta kolong rumah yang memungkinkan sirkulasi udara sekaligus mitigasi genangan.
Ketika rumah-rumah modern berbasis semen menggantikan model panggung, potensi kerentanan pun meningkat. Panas menjadi lebih terperangkap, sirkulasi udara berkurang, dan risiko terhadap banjir semakin besar.
Dalam bahasa lokal, kondisi “bedengkang” panas yang menyengat tanpa henti menjadi semakin terasa.
Di sinilah saya melihat dialektika yang menarik: antara tradisi dan modernitas, antara adaptasi ekologis dan aspirasi sosial. Masyarakat Bengkalis tidak meninggalkan tradisi, melainkan mengolahnya dalam konteks baru.
Lampu colok tetap menyala, rombongan tetap berjalan, tetapi rumah-rumah berubah mengikuti arus zaman.
Pada akhirnya, pengalaman ini memberi saya satu pemahaman: praktik sosial seperti rombongan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah mekanisme reproduksi sosial yang membentuk cara orang membangun rumah, memilih pekerjaan, hingga memaknai relasi antarindividu.
Di Bengkalis, Lebaran bukan hanya perayaan, tetapi juga cermin bagaimana masyarakat merawat kohesi sosial di tengah perubahan yang terus berlangsung.





