INGATLAH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang merilis data aktivitas seismik di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) dan sekitarnya selama tahun 2025.
Tercatat, sebanyak 1.273 kejadian gempa bumi terjadi dalam periode Januari hingga Desember, yang mempertegas posisi Sumbar sebagai kawasan dengan tingkat kerawanan tektonik tinggi.
Berdasarkan statistik tahunan tersebut, Oktober menjadi bulan dengan aktivitas kegempaan tertinggi, yakni mencapai 179 kejadian.
Sementara itu, frekuensi gempa pada bulan Desember dan Mei tercatat sama kuat dengan masing-masing 138 kejadian.
Sebaliknya, aktivitas terendah terpantau pada Januari dengan 65 gempa dan November sebanyak 74 kejadian.
BMKG Padang Panjang menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan aktivitas di zona subduksi serta Sesar Sumatera.
Secara teknis, mayoritas gempa yang terjadi sepanjang 2025 merupakan gempa berkekuatan kecil.
“801 kejadian memiliki magnitudo di bawah 3 (M<3), sementara 460 gempa berada pada rentang magnitudo 3 hingga kurang dari 5 (3≤M<5),” tulis dalam laporan BMKG.
“Untuk kategori gempa besar dengan kekuatan di atas 5 (M>5), BMKG mencatat frekuensinya relatif rendah, yaitu hanya 12 kejadian,” tulisnya lagi.
Meski demikian, gempa kategori ini tetap menjadi prioritas pengawasan karena dampak kerusakannya yang lebih luas.
Dari sisi kedalaman, kegempaan di Sumbar didominasi oleh gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer sebanyak 696 kejadian.
Sebanyak 72 gempa berada di kedalaman menengah (60–300 km), dan hanya dua kejadian yang tergolong gempa dalam (lebih dari 300 km).
Meskipun ribuan gempa tercatat secara instrumen, hanya 48 kejadian yang dilaporkan dirasakan oleh masyarakat dengan intensitas II hingga IV MMI.
Bulan Desember tercatat sebagai periode dengan gempa yang paling sering dirasakan, termasuk yang mengakibatkan kerusakan ringan pada sejumlah hunian warga di Kabupaten Agam.
Pihak BMKG Padang Panjang menekankan bahwa tingginya angka gempa dangkal menuntut kesiapsiagaan ekstra, terutama bagi warga yang tinggal di dekat pusat aktivitas tektonik.
“Dominasi gempa dangkal ini menunjukkan potensi dampak yang lebih besar terhadap permukaan, terutama jika terjadi di dekat permukiman. Oleh karena itu, BMKG Padang Panjang menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko gempa bumi,” demikian pernyataan resmi BMKG.
Langkah mitigasi seperti pemahaman jalur evakuasi, penyediaan bangunan tahan gempa, serta edukasi kebencanaan yang berkelanjutan tetap menjadi faktor krusial guna meminimalkan risiko di masa depan. (*)





