INGATLAH – Hampir dua minggu pascabanjir besar melanda Kota Padang, warga di Kelurahan Aie Pacah, Kecamatan Koto Tangah, mengeluhkan lumpuhnya pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang, Minggu (14/12).
Keterlambatan pemulihan ini secara drastis menghambat aktivitas dasar sehari-hari seperti mandi, mencuci dan lain-lain.
Salah seorang warga, Riri menyuarakan keresahannya terkait air PDAM.
“Air belum jelas, sudah dua minggu lebih air PDAM tidak hidup, aktivitas pun terganggu,” ujarnya.
Selain masalah pasokan, warga juga mempertanyakan apakah beban pembayaran bulanan PDAM akan tetap normal meskipun layanan terhenti.
Menanggapi keluhan ini, Direktur Utama PDAM Padang, Hendra Pebrizal menjelaskan akar masalahnya terletak pada kerusakan masif di intake air di wilayah utara Padang.
“Intake yang parah itu hanyut, dan itu butuh perbaikan. Ada pipa sepanjang 1,5 kilometer yang hanyut, termasuk rumah pompa dan pompanya terendam rusak,” jelas Hendra.
Dua intake utama, yaitu Intake Palukahan (300 liter/detik) dan intake pompa (200 liter/detik), masih belum bisa beroperasi karena menantikan komponen vital dari pusat.
Sebagai solusi darurat, PDAM telah menyediakan tedmond (tangki air) dan menyebarkan armada tangki air secara bergilir untuk melayani daerah terdampak.
Namun, dengan jumlah armada yang terbatas kini tinggal 12 unit, termasuk bantuan dari PU pelayanan harus diprioritaskan, termasuk untuk rumah sakit umum seperti RSUD dan RS Siti Rahmah.
Target Pemulihan dan Kendala Lapangan
Hendra Pebrizal menyampaikan optimisme terkait pemulihan air di Kota Padang.
“Pipa besar yang dibutuhkan dijanjikan tiba dari Jakarta pada hari Senin. Target kami paling lama lima hari, atau 10-15 hari lah. Kami usahakan seminggu. Kalau misalkan cuacanya bagus, saya yakin paling lama 10 hari selesai,” tegas Dirut PDAM.
Kendala utama yang memperlambat perbaikan adalah kondisi medan di hulu. Proses menuju intake di atas membutuhkan pembukaan jalan karena longsor di empat titik dan adanya jembatan putus.
Tim saat ini harus menempuh jarak sekitar 7-8 kilometer tanpa jalan aspal dengan mengerahkan dua alat berat.
Mengenai tagihan, PDAM menjamin tidak akan merugikan pelanggan. Ia juga menambahkan bahwa ada komponen biaya sampah dalam tagihan yang diharapkan mendapat kebijakan pemotongan dari Wali Kota Padang.
“Kami menagih orang membayar air itu sesuai dengan angka meter yang tertera. Tentu hanya membayar beban yang digunakan,” kata Hendra.
Saat ini, layanan PDAM Padang secara keseluruhan sudah mencapai sekitar 80% dari kapasitas normal, dan perbaikan dua intake terakhir sedang dikebut. (*)





