JAKARTA – Transformasi besar tengah disiapkan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) melalui rencana spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) menjadi Bank Umum Syariah (BUS).
Proses pemisahan yang sudah memasuki tahap final itu ditargetkan rampung dan mulai beroperasi penuh pada Mei 2026.
Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, mengatakan bahwa langkah spin-off bukan sekadar pemenuhan regulasi.
Tetapi menjadi momentum untuk mempercepat pertumbuhan bisnis syariah CIMB Niaga ke level yang lebih besar.
“Setelah resmi menjadi bank syariah mandiri, kami ingin CIMB Niaga Syariah menjadi salah satu bank syariah dengan aset jumbo di Indonesia. Ekspektasi kami, pada tahun 2030 aset harus tembus tiga digit minimal Rp100 triliun,” ujar Pandji.
Saat ini, performa UUS CIMB Niaga menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Hingga akhir 2024, total aset UUS tercatat mencapai Rp67,5 triliun, atau setara 19,3 persen dari total aset induk perusahaan.
Pencapaian ini menjadi modal kuat untuk memasuki fase baru sebagai bank syariah penuh.
Dalam strategi jangka panjang, CIMB Niaga akan memanfaatkan efisiensi operasional dan dukungan infrastruktur teknologi dari grup.
Sinergi tersebut diyakini dapat mempercepat ekspansi bisnis syariah, memperkuat layanan digital, serta meningkatkan daya saing di tengah pertumbuhan industri perbankan syariah nasional.
“Spin-off dan optimalisasi infrastruktur teknologi menjadi kunci percepatan menuju target jangka panjang kami. Dengan pondasi yang kuat, kami optimistis dapat mempercepat pertumbuhan dalam lima tahun setelah pemisahan,” tegas Pandji.
CIMB Niaga menilai momentum perkembangan ekonomi syariah di Indonesia semakin besar, ditopang oleh meningkatnya minat masyarakat, pertumbuhan sektor halal, serta dukungan pemerintah terhadap industri keuangan syariah.
Dengan hadir sebagai bank syariah mandiri, CIMB Niaga berharap dapat mengambil peran lebih besar dalam ekosistem tersebut.





