INGATLAH – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Badan Geologi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Talang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).
Peningkatan status ini ditetapkan hari ini Rabu, (10/12) pukul 10.00 WIB, menyusul lonjakan signifikan aktivitas kegempaan vulkanik.
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa Gunung Talang salah satu gunungapi paling aktif di Sumbar menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan sistem vulkanik.
“Sejak September 2024, terdapat kenaikan aktivitas gempa vulkanik dalam (VT). Sepanjang 2025 juga terjadi empat periode swarm yang menunjukkan ketidakstabilan sistem vulkanik. Kondisi ini menjadi indikator adanya migrasi magma dari kedalaman ke arah permukaan,” ujar Lana Saria, Rabu (10/12).
Pemicu Peningkatan dan Data Kegempaan
Menurut laporan PVMBG, lonjakan aktivitas kegempaan Gunung Talang terjadi secara masif pasca-gempa tektonik berkekuatan M4,7 yang mengguncang 18 km dari Kota Solok pada Rabu dini hari pukul 02.48 WIB.
Hingga pukul 09.00 WIB, tercatat akumulasi data:
-
Gempa Vulkanik Dalam (VT): 227 kali
-
Gempa Terasa: 2 kali (Skala I–III MMI)
-
Gempa Tektonik Jauh: 14 kali
Lana Saria menambahkan bahwa pola swarm (serangkaian gempa kecil) yang terjadi sebelumnya, terutama pada 23 September, menunjukkan konsentrasi yang lebih dangkal di area kawah, memperkuat dugaan adanya tekanan vulkanik yang meningkat.
Meskipun pengamatan visual dari Pos PGA Talang hanya menunjukkan asap kawah putih setinggi 10-75 meter, indikator kegempaan menjadi dasar utama penetapan status Waspada.
Imbauan dan Zona Bahaya
Seiring penetapan status Level II (Waspada), Badan Geologi mengeluarkan imbauan keselamatan mendesak.
Larangan Aktivitas: Masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang mendekati atau bermalam dalam radius 2 km dari Kawah Utama dan Kawah Selatan.
Waspada Longsor: Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi longsor di area Kawah Selatan, terutama saat terjadi hujan atau gempa.
“Status ini akan dievaluasi kembali jika ada perubahan signifikan pada visual kawah maupun pola kegempaan,” tutup Lana Saria. (*)





