BeritaRiau

Alarm Kebakaran Hutan di Sumatera, BMKG Deteksi 55 Hotspot Sumsel Paling Mengkhawatirkan

×

Alarm Kebakaran Hutan di Sumatera, BMKG Deteksi 55 Hotspot Sumsel Paling Mengkhawatirkan

Sebarkan artikel ini
Kebakaran hutan di Sumatera Selatan (Sumsel). (Foto: BPBD Sumsel)

INGATLAH – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Pulau Sumatera.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui pantauan terbarunya mendapati puluhan titik panas (hotspot) tersebar di berbagai provinsi, menjadi peringatan dini akan potensi kabut asap.

Menurut laporan Mari Frystine, Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru, total 55 titik panas terdeteksi di seluruh wilayah Sumatra Minggu, 16 November 2025.

Jumlah yang signifikan ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

Mari Frystine menjelaskan bahwa sebaran hotspot terbesar terkonsentrasi di wilayah selatan Sumatera.

Baca Juga  PSPS Pekanbaru Resmi Luncurkan Tim dan Umumkan Kapten Baru

“Untuk Sumatera secara keseluruhan terdapat 55 hotspot,” ungkap Mari Frystine, merinci data yang dikumpulkan.

Data rinci BMKG menunjukkan penyebaran titik panas yang mengkhawatirkan:

Provinsi Jumlah Hotspot
Sumatera Selatan (Sumsel) 19 titik
Riau 10 titik
Bengkulu 7 titik
Lampung 7 titik
Jambi 6 titik
Sumatera Utara (Sumut) 2 titik
Sumatera Barat (Sumbar) 2 titik
Bangka Belitung (Babel) 2 titik

Riau Masih Rawan, Bengkalis Tertinggi

Secara spesifik di Provinsi Riau, terdeteksi sepuluh titik panas. Sebagian besar berada di wilayah pesisir dan timur.

“Di Riau 10 titik Hotspot terbanyak berada di Kabupaten Bengkalis dengan tujuh titik, kemudian Rokan Hilir dua titik, dan Indragiri Hilir satu titik,” jelas Mari Frystine.

Baca Juga  Penertiban PKL di Pantai Padang, Pedagang Lempar Kelapa Muda ke Satpol PP

Angka ini menjadikan Kabupaten Bengkalis sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan karhutla paling tinggi di Riau saat ini.

Menyikapi temuan ini, BMKG Pekanbaru mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak lengah dan meningkatkan kesiapsiagaan, mengingat dampak buruk karhutla pada kesehatan dan lingkungan.

Mari Frystine secara tegas mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

“Pencegahan dini menjadi kunci utama untuk menghindari munculnya kabut asap,” tutupnya. (*)