INGATLAH – Azizah Salsha kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Putri dari politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade itu menjadi topik hangat.
Berbagai isu mengenai kehidupan pribadinya beredar luas mulai dari pernikahan muda dengan pesepak bola Timnas Indonesia Pratama Arhan, tudingan perselingkuhan, hingga perceraian yang menimpa mereka.
Di tengah derasnya komentar negatif publik, Azizah bahkan disebut-sebut menjadi korban cancel culture, sebuah fenomena ketika seseorang dibatalkan atau diboikot secara massal karena dianggap melanggar norma sosial.
Menjawab berbagai isu miring yang beredar, Andre Rosiade akhirnya buka suara. Dalam perbincangannya di kanal YouTube dr. Richard Lee, MARS, Kamis (13/11).
Andre meluruskan anggapan bahwa pernikahan anaknya Azizah dan Arhan tidak merupakan settingan.
“Kalau soal itu kan pilihan. Saya menghormati pilihan anak saya. Anak saya sama Arhan waktu itu memang sepakat minta nikah karena mereka yakin, ya sudah kami fasilitasi. Tidak ada by design, mereka yang minta nikah ke kami,” jelas Andre.
“Azizah dosanya apa sih sama orang,” ujar Andre Rosiade.
Azizah dan Arhan menikah pada 20 Agustus 2023, saat Azizah berusia 20 tahun dan Arhan 22 tahun.
Meski pernikahan mereka hanya berlangsung dua tahun, Andre menegaskan bahwa proses perceraian keduanya berlangsung secara damai dan penuh penghormatan.
Pratama Arhan mengajukan permohonan cerai ke Pengadilan Agama Tigaraksa, Tangerang, 1 Agustus 2025.
Proses tersebut berakhir pada 29 September 2025, ketika pengadilan menetapkan keduanya resmi bercerai.
“Di saat mereka memutuskan berpisah, mereka pun berpisah baik-baik. Karena pernikahan ini menggabungkan dua keluarga besar, jadi perpisahan juga dilakukan dengan baik,” ujarnya.
Andre mengaku heran melihat komentar publik yang terus menyerang putrinya bahkan setelah pernikahan tersebut berakhir.
“Perpisahannya baik-baik, yang enggak baik itu netizen. Dari awal nikah sampai sudah pisah, Azizah terus jadi korban. Padahal Azizah tidak menzalimi siapa pun, enggak korupsi, enggak mencelakai orang, tapi terus diserang,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti fenomena cancel culture yang kini menimpa Azizah, mempertanyakan apa sebenarnya kesalahan putrinya di mata publik.
“Bahkan hari-hari ini dia kena cancel culture. Saya tanya, Azizah dosanya apa sih sama orang? Putusan pengadilan pun sudah jelas, mereka berpisah baik-baik karena ketidakcocokan,” tegas Andre.
Cancel culture adalah fenomena ketika seseorang, terutama figur publik atau influencer, diboikot secara kolektif karena dianggap berperilaku tidak pantas.
Meski awalnya bertujuan untuk menuntut akuntabilitas, praktik ini sering berubah menjadi bentuk perundungan massal (cyberbullying).
Contoh yang sering terjadi di media sosial Indonesia antara lain:
-
Serangan komentar di Instagram atau X,
-
Ajakan berhenti mengikuti akun seseorang,
-
Boikot kerja sama dengan brand.
Dalam kasus Azizah, warganet dinilai terus menghujatnya setelah perceraian, meski tidak ada bukti pelanggaran hukum maupun tindakan tercela yang dilakukan.
Fenomena ini menegaskan betapa rentannya kehidupan pribadi figur publik menjadi konsumsi massa, bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan yang jelas. (*)





