SURAT PENDERITAAN: AYAT KEBENCIAN
Malam turun berselendang muram
Seperti rahim langit yang melahirkan kelam
Aku mengiqro’kan wahyu dari jemarimu—
bukan dari langit,
Melainkan dari selembar risalah
Yang kau tulis dengan tinta menyala
Katamu itu ayat cinta
Tapi bagiku – ia Nubuatan luka
Firman yang tak sempat disunting semesta.
Lidahmu—yang pernah kusebut surga—
kini menabur titik-titik benci,
lafadzmu menjelma isyarat
yang tak mampu kutafsirkan lagi.
Malam pun menyuarakan dendamnya
Aku tenggelam dalam tiga alif
Terluntah enam harakat
Yang kehilangan tajwidnya.
Tuhan – tidak menjawab lewat firman
Tidak pula lewat kuda berkepak cahaya
hanya lewat sunyi yang menyiratkan
“Bukan keelokkan yang memilihmu, melainkan siapa yang memaknainya”.
— Luhak Nan Tuo, 2025
SEKETIKA PULANG
Senja meremang di pelupuk Kota Industri,
langit menyulam kelabu di atas lambung yang lelah.
Ombak berseru pada kapal—
riuh rindu dan takut mengapung di permukaan waktu.
Tubuh-tubuh pulang,
mengendap dalam sesak yang diam.
Seperti ibu,
menyulam doa di jendela malam,
tanpa tahu benar:
di mana pulang itu tinggal.
Kekasihku,
apa arti pulang bagi jiwa yang tak lagi berpeta?
Malam turun perlahan,
menyelimuti sisa-sisa rindu yang mengendap.
Kemana rinduku ingin berlabuh?
Ke rumahku,
ke rumahmu,
atau ke sunyi yang enggan disingkap?
Kapal merambat dalam pasang,
dan pada laut kubisikkan:
Jangan kabarkan pada siapapun,
bahwa aku tengah pulang
membawa rindu yang tak bernama.
—– Pelabuhan Button, 2025
KITA YANG HILANG
Tidak apa
Aku dan kau… tak lagi menjelma
Kita hilang di sisa pertempuran yang sunyi
Tak usah berkata maaf
Aku hanya salah memilih luka di kedalaman
Luka yang melekat
(Membeku) diantara lenguhan nafas
Jangan lagi
Cinta…
Sebab cinta, tak lebih dari kata…. telanjang
Ia hanya air yang mengalir
Membasahi tubuh… dibawah guyuran gayung
Kita adalah
kata yang hilang
Tak bisa dicari
di peta manapun
Hanyut ditelan fatamorgana
Mati…
Tanpa tau di mana pusara
Kini …
Malam demi malam aku telan
Aku … menjahit diriku sendiri
Dengan benang yang tak terlihat orang awam
— Luhak Nan Tuo, 2025
SEPTEMBER KELABU
Hari ini, September pergi secara terburu-buru
Seakan Sumatra menjadi lebih dingin dari yang teringat.
Pada september, aku gagal
Membuatku menelan malam-malam yang
Mengerikan
Kehampaan
Kesepian tak berujung.
Di ujung pelosok Sumatra
Dalam kamar tanpa jam dinding
Diantara buku-buku nan basah
Bagi mereka,
Aku adalah tulisan-tulisan yang sepi
Berderai diantara kata-kata.
Yang semulanya melihat pena-pena merintih
Kini dibuai keheningan malam
Adakah yang menyeka air matanya?
— Barulak, 2025
PULANG YANG TERLAMBAT
Payakumbuh, jelang subuh
Hujan gerimis menambah kecepatan langkah
di jalanan basah
Lampu-lampu di tiang listrik padam
Diganti gelap yang pekat
Jalan kosong
Sunyi…
Dan aku berlari
Menghindari dingin yang memenggut
Pintu rumah terbuka setengah menganga
Jam dinding tua milik nenek tertawa
Seolah mengejek kepulanganku
Terlalu larut
Atau terlalu sia-sia
Kemerdekaanku —
Adalah nasib terima dalam getir
Tumpah dalam nyatanya hidup
Tak pernah dipilih
Di pojok kamar,
Yang tersisa satu kamera tua
Pena tanpa tinta
Sisanya, hidup yang muram
Kenapa tak menulis lagi?
Sungguh aku merindukannya
Tanpa kantuk
— Payakumbuah, 2024





