Berita

Viral Yanti TKW Taiwan di TikTok, Sosiolog: Ini Bentuk Kreativitas di Tengah Kompetisi

×

Viral Yanti TKW Taiwan di TikTok, Sosiolog: Ini Bentuk Kreativitas di Tengah Kompetisi

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Media sosial kembali ramai dengan kemunculan video Yanti, seorang TKW asal Taiwan. Video tersebut menjadi viral dan trending di berbagai platform.

Berdasarkan penelusuran dari Ingatlah.com, dalam video tersebut, Yanti terlihat menari dengan pakaian terbuka. Aksi itu dilakukannya untuk mendapatkan hadiah atau “gift” dari para penonton.

Yanti diketahui sebagai seorang tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan dan membagikan aksi tersebut melalui platform TikTok.

Fenomena “mengemis online” ini bukanlah hal baru. Sudah banyak individu yang memanfaatkan platform TikTok untuk mencari penghasilan, termasuk dengan aksi-aksi seperti mandi lumpur.

Khususnya, fenomena mengemis online yang melibatkan orang lanjut usia dan anak-anak di TikTok kini mendapat perhatian luas.

Banyak konten kreator yang mengeksploitasi diri sendiri, bahkan lansia dan anak-anak, demi mendapatkan hadiah dari penonton.

Beragam aksi dilakukan oleh para konten kreator, mulai dari mandi lumpur, berendam dalam air kotor, hingga mengguyur diri dengan air dingin dalam waktu lama.

Menanggapi fenomena ini, Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., seorang sosiolog dari Universitas Airlangga (UNAIR), berpendapat bahwa pada dasarnya aktivitas mengemis online ini tidak berbeda jauh dengan mengemis konvensional yang sering dijumpai.

Baca Juga  Berdiri Sejak 1896, Masjid Tilatang Kamang Diresmikan Lagi usai Selesai Direnovasi

Menurutnya, inti dari aktivitas tersebut adalah meminta belas kasihan dari orang lain demi memperoleh sesuatu.

“Itu adalah bentuk kreativitas karena menghadapi situasi yang semakin kompetitif. Jadi, mengemis ini tidak mudah, semakin banyak saingan. Sehingga mereka perlu berkreasi untuk mendapatkan simpati dari masyarakat,” jelasnya dalam wawancara yang dikutip dari laman unair.ac.id, Kamis (19/1/2023).

Prof. Bagong juga menyebut bahwa fenomena ini muncul karena adanya kesenangan melihat orang lain menderita.

Masyarakat cenderung memberikan lebih banyak ketika melihat pengemis mengalami lebih banyak penderitaan, seperti berendam lebih lama atau mengguyur air lebih banyak.

Ia juga menyoroti bahwa ada konten kreator yang mengeksploitasi orang tua mereka untuk keuntungan pribadi.

“Ini yang harus kita soroti. Mereka bukan melakukan ini karena terpaksa, melainkan justru mengeksploitasi penderitaan orang-orang yang tidak berdaya demi memperkaya diri sendiri,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR ini.

Baca Juga  Viral Penangkapan Mirip Mantan Bupati Dharmasraya di Padang, Diduga Asusila Sesama Jenis

Fenomena mengemis online yang melibatkan lansia di TikTok kini menuai perhatian publik. Berbeda dengan pengemis konvensional, fenomena ini tidak dapat ditindak dengan cara biasa seperti melalui intervensi Dinas Sosial atau Satpol PP.

Oleh karena itu, Prof. Bagong mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan sumbangan atau menonton konten semacam itu.

Sebagai Guru Besar Sosiologi Ekonomi Unair, ia berharap pemerintah dan masyarakat dapat bersikap adil serta tidak memberikan stigma negatif kepada orang miskin yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Penindakan lebih tegas sebaiknya dilakukan terhadap mereka yang memanfaatkan kemiskinan orang lain untuk memperkaya diri.

“Harus dibedakan, kita tidak bisa langsung menyalahkan semua orang yang melakukan hal ini. Harus dilihat siapa yang benar-benar butuh untuk bertahan hidup. Ini sama seperti artis yang mengadakan donasi secara terbuka. Mengapa ketika artis melakukannya tidak dipersoalkan, tetapi orang miskin justru dipandang negatif?” tutupnya. (*)