INGATLAH.COM – Selama ini, kepemimpinan mungkin lebih banyak dipelajari para santri melalui buku, pelajaran di kelas, kegiatan organisasi, hingga berbagai amanah di lingkungan pesantren.
Namun, Selasa (29/9/2026), sebanyak 82 santri dan santriwati kelas 5 KMI PPM Diniyyah Pasia bersama 15 Dewan Guru mendapat kesempatan melihat langsung bagaimana kepemimpinan dijalankan di ruang pemerintahan.
Melalui kegiatan Rihlah Tarbawiyah, para santri diajak keluar dari lingkungan kelas dan pesantren untuk mengenal lebih dekat kehidupan pemerintahan Provinsi Sumatera Barat.
Rombongan mengunjungi Kediaman Gubernur Sumatera Barat dan Kantor DPRD Provinsi Sumatera Barat.
Tak sekadar berkunjung, para santri juga mendapat kesempatan menyaksikan langsung Sidang Paripurna yang dihadiri Gubernur Sumatera Barat, pimpinan DPRD, serta anggota DPRD Sumatera Barat.
Bagi para santri, terutama mereka yang mendapat amanah sebagai pengurus organisasi di pesantren, pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang berbeda.
Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana komunikasi berlangsung, bagaimana pendapat disampaikan, bagaimana musyawarah dilakukan, hingga bagaimana sebuah lembaga menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk kepentingan masyarakat.
Di sinilah Rihlah Tarbawiyah menemukan maknanya. Perjalanan tersebut bukan sekadar berpindah tempat dari pesantren menuju pusat pemerintahan, melainkan membawa proses belajar dari ruang kelas menuju kehidupan nyata.
- Melihat Kepemimpinan dari Dekat
Para santri kelas 5 KMI merupakan bagian penting dalam kehidupan organisasi di PPM Diniyyah Pasia.
Pengalaman mereka di lingkungan pemerintahan diharapkan dapat memperkaya cara pandang dalam menjalankan amanah organisasi di pesantren.
Mereka belajar bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada jabatan atau posisi. Seorang pemimpin dituntut mampu berkomunikasi, menyampaikan gagasan, mendengarkan pendapat, menghargai perbedaan, bekerja sama dan mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab.
Pengalaman menyaksikan Sidang Paripurna menjadi salah satu bagian yang memberikan kesan tersendiri.
Para santri dapat melihat bagaimana lembaga pemerintahan bekerja melalui mekanisme yang telah diatur, sekaligus memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi dan berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Apa yang selama ini dipelajari secara teoritis di kelas pun menjadi lebih mudah dipahami ketika mereka melihat praktiknya secara langsung.
“Kami senang dan bangga mendapatkan fasilitas belajar secara langsung seperti ini. Apa yang selama ini dipelajari di kelas dapat kami lihat penerapannya secara nyata. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami sebagai santri dan pengurus organisasi,” ujar Kepala MAS PPM Diniyyah Pasia, Dian Rivia Hanifa.
Bagi para santri, pengalaman tersebut bukan hanya tentang melihat bagaimana pemerintahan bekerja.
Lebih jauh, mereka sedang diajak memahami bahwa menjadi pemimpin berarti siap memikul amanah.
- Belajar dari Realitas Kehidupan
Rihlah Tarbawiyah menjadi bentuk pembelajaran kontekstual yang mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman.
Jika ruang kelas memberikan teori, maka kunjungan ke lingkungan pemerintahan memberikan gambaran nyata tentang bagaimana teori tersebut hadir dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Para santri diperkenalkan pada nilai-nilai demokrasi, musyawarah, tanggung jawab kelembagaan dan pentingnya komunikasi dalam menjalankan kepemimpinan.
Nilai-nilai itu kemudian diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman sehari.
Para santri dapat membawa pelajaran tersebut kembali ke pesantren untuk diterapkan dalam kegiatan organisasi maupun kehidupan sehari-hari.
Sebab, menjadi pemimpin tidak selalu dimulai dari ruang pemerintahan.
Kepemimpinan dapat tumbuh dari lingkungan paling dekat, termasuk ketika seorang santri dipercaya mengemban amanah dalam organisasi, memimpin kegiatan, menyelesaikan persoalan bersama, dan menjadi teladan bagi teman-temannya.
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Bagi PPM Diniyyah Pasia, Rihlah Tarbawiyah menjadi bagian dari proses pendidikan karakter dan kepemimpinan.
Kegiatan tersebut sejalan dengan visi PPM Diniyyah Pasia, yakni “Membentuk calon ulama, cendikiawan muslim dan pemimpin masa depan.”
Visi itu tidak hanya diterjemahkan melalui pembelajaran akademik dan keagamaan, tetapi juga melalui pengalaman yang dapat memperluas wawasan santri.
Santri tidak cukup hanya mengetahui apa arti kepemimpinan. Mereka perlu melihat bagaimana seorang pemimpin berkomunikasi, bagaimana sebuah lembaga mengambil keputusan, bagaimana perbedaan pendapat dikelola, serta bagaimana sebuah amanah dijalankan.
Karena itu, perjalanan ke lingkungan pemerintahan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan dunia yang kelak akan mereka hadapi ketika kembali ke tengah masyarakat.
Dari Kediaman Gubernur hingga ruang Sidang Paripurna DPRD, para santri melihat sisi lain dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mereka belajar bahwa di balik sebuah jabatan terdapat amanah. Di balik sebuah keputusan terdapat tanggung jawab. Dan di balik kepemimpinan terdapat kewajiban untuk memberikan manfaat.
Pada akhirnya, Rihlah Tarbawiyah bukan hanya tentang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah perjalanan pembelajaran—dari teori menuju pengalaman, dari ruang kelas menuju ruang pengabdian, dan dari lingkungan pesantren menuju kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Dari sana, para santri diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki ilmu, wawasan, keberanian, kematangan berpikir dan karakter kepemimpinan.
Sebab, pemimpin masa depan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berdiri di depan. Ia juga harus memiliki kesanggupan untuk mendengar, memahami, bertanggung jawab dan memberi manfaat bagi orang lain.
Itulah pelajaran yang dibawa pulang para santri PPM Diniyyah Pasia dari ruang pemerintahan: bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang siapa yang berada di depan, tetapi tentang siapa yang siap memikul amanah.





