INGATLAH.COM – Ribuan kilometer yang memisahkan Mali dan Indonesia tidak menjadi penghalang bagi Moussa Bagayoko untuk memulai petualangan baru dalam karier sepak bolanya.
Gelandang bertahan asal Mali itu kini resmi menjadi bagian dari PSS Sleman dan tengah menikmati proses adaptasinya bersama Super Elang Jawa.
Perbedaan bahasa, budaya, hingga jarak geografis yang begitu jauh justru menjadi pengalaman baru bagi Bagayoko.
Kedatangannya ke Sleman membuka lembaran baru dalam perjalanan profesionalnya, sekaligus menghadirkan tantangan untuk memberikan kemampuan terbaik bagi PSS di kompetisi mendatang.
Bagi Bagayoko, keputusan bermain di Indonesia bukan tanpa alasan. Ia mengaku tertarik dengan pengalaman baru yang ditawarkan sepak bola Indonesia.
Lingkungan dan suasana di Sleman juga membuatnya merasa nyaman sejak pertama kali bergabung.
“Ya, ini adalah pengalaman pertama saya bermain di Indonesia. Saya punya alasan tersendiri memilih datang ke sini. Yang pertama, saya senang berada di sini. Saya menikmati pengalaman baru ini dan merasa nyaman dengan lingkungan serta suasana di sini,” ujar Bagayoko.
Selama sekitar empat pekan menjalani pramusim di Sleman, Bagayoko tidak hanya berusaha meningkatkan kondisi fisik dan kemampuan teknis.
Setiap sesi latihan dimanfaatkannya untuk mengenal karakter rekan setim, memahami filosofi permainan yang diterapkan tim pelatih, sekaligus membangun chemistry di dalam skuad.
Proses adaptasi tersebut berjalan cukup cepat. Bagayoko menilai karakter pribadinya yang mudah beradaptasi menjadi salah satu faktor yang membantunya segera menyatu dengan lingkungan baru.
“Alhamdulillah, saya menjalani proses adaptasi baik-baik saja. Saya termasuk orang yang cukup cepat beradaptasi. Sejauh ini, saya merasa proses adaptasi dengan tim berjalan sangat baik, dan bisa dengan cepat menyatu dengan rekan-rekan di dalam tim,” tuturnya.
Bagi pemain asal Mali tersebut, sepak bola memiliki kekuatan lebih besar dari sekadar permainan selama 90 menit. Sepak bola menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda.
Pandangan itu pula yang dirasakan Bagayoko selama berada di PSS.
Keterbatasan bahasa tidak menjadi hambatan besar untuk membangun komunikasi dengan pemain lain. Interaksi di lapangan maupun di luar lapangan justru membuat hubungan antarpemain semakin dekat.
Perlahan, rekan-rekan setimnya tidak lagi sekadar menjadi pemain yang berbagi ruang ganti dan lapangan. Bagayoko mulai menganggap mereka sebagai sahabat yang membuat perjalanan barunya di Indonesia terasa lebih mudah.
Kehangatan tersebut membuat gelandang bertahan itu semakin nyaman mengenakan jersey PSS. Dukungan dari rekan-rekan setim juga membantunya melewati fase awal adaptasi di negara yang memiliki bahasa dan budaya berbeda dengan Mali.
“Saya suka mereka semua. Mereka adalah temanku satu tim,” tegas Bagayoko.
Kehadiran Bagayoko diharapkan mampu memberikan warna baru bagi lini tengah PSS Sleman.
Sebagai gelandang bertahan, ia diproyeksikan menjadi salah satu pemain penting dalam menjaga keseimbangan permainan Super Elja.
Kini, setelah melewati masa adaptasi, Bagayoko bersiap membuka babak baru bersama PSS Sleman. Jarak ribuan kilometer dari tanah kelahirannya perlahan terasa lebih dekat ketika ia menemukan lingkungan yang menerimanya sebagai bagian dari keluarga Super Elja.





