INGATLAH.COM – Di balik perjuangan tim medis selama 34 hari menyelamatkan Gajah Jovi, terdapat fakta bahwa penyakit yang diderita satwa jinak binaan Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas itu jauh lebih kompleks dari yang terlihat di awal.
Meski sempat menunjukkan tanda-tanda membaik, kondisi Jovi terus memburuk akibat komplikasi infeksi yang menyerang tubuhnya hingga memicu kerusakan otot berat atau myopathy.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengungkapkan, sejak gejala awal muncul pada 1 Juli 2026, tim dokter hewan langsung melakukan serangkaian pemeriksaan klinis dan laboratorium untuk mengetahui penyebab sakit yang dialami gajah jantan berusia sekitar 46 tahun tersebut.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan gejala awal yang ditunjukkan Jovi cukup mengkhawatirkan.
Selain kehilangan nafsu makan, gajah itu mengalami kelemahan tubuh, tremor, kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, serta kesulitan berdiri.
Melihat kondisi tersebut, tim medis segera memberikan penanganan intensif sesuai standar operasional pelayanan kesehatan satwa.
Berbagai jenis terapi dilakukan, mulai dari pemberian cairan infus selama 24 jam, antibiotik, vitamin, antiinflamasi, asam amino, hingga terapi suportif untuk menjaga kondisi tubuh Jovi tetap stabil.
“Sejak awal munculnya gejala, tim medis BBKSDA Riau segera melakukan penanganan secara intensif sesuai standar operasional dan prosedur pelayanan kesehatan satwa. Tindakan medis yang diberikan meliputi terapi cairan infus selama 24 jam, pemberian vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemantauan kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium secara berkala,” ujar Ujang dalam keterangan resminya, Selasa (4/8/2026).
Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, menjelaskan bahwa perkembangan kondisi Jovi sebenarnya sempat memberikan harapan.
Beberapa hari setelah menjalani terapi, kekakuan pada anggota tubuh mulai berkurang dan nafsu makannya perlahan kembali.
Bahkan pada hari keenam masa perawatan, Jovi sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah.
Hasil pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan secara berkala juga menunjukkan adanya penurunan tingkat infeksi.
“Hasil pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan secara berkala juga menunjukkan adanya penurunan tingkat infeksi setelah mendapatkan terapi,” kata Rini.
Namun di balik perkembangan tersebut, kondisi jaringan otot Jovi ternyata terus mengalami kerusakan.
Gangguan itu berkembang menjadi myopathy berat, yaitu kelainan pada jaringan otot yang menyebabkan gajah kehilangan kemampuan untuk menopang tubuhnya.
Akibat kondisi tersebut, Jovi kembali terbaring dan tidak mampu berdiri meski terapi terus diberikan.
Selama masa perawatan, kebutuhan nutrisi dan cairannya dipenuhi melalui pakan khusus serta terapi infus agar fungsi organ tubuh tetap terjaga.
Kasus yang dialami Jovi juga mendapat perhatian dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan.
Penanganan medis dilakukan melalui koordinasi dengan dokter hewan dari berbagai unit di lingkungan Kementerian Kehutanan untuk memperoleh masukan dan pertimbangan medis terbaik.
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium darah, serta gejala yang muncul selama masa perawatan, tim medis menduga Jovi mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan bagian atas yang kemudian berkembang menjadi myopathy berat.
Meski demikian, BBKSDA Riau menegaskan dugaan tersebut masih akan dipastikan melalui pemeriksaan ilmiah yang lebih mendalam.
Karena itu, setelah Jovi dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB, tim medis langsung melakukan nekropsi atau bedah bangkai untuk mengetahui penyebab pasti kematian.
Selain itu, sejumlah sampel organ dan jaringan tubuh juga diambil untuk diperiksa di laboratorium.
Langkah tersebut dilakukan agar penyebab kematian dapat dipastikan secara ilmiah sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi penanganan kasus serupa di masa mendatang.
Menjelang akhir masa perawatan, kondisi Jovi memang mengalami penurunan sangat drastis.
Pada Minggu (2/8/2026), gajah itu tidak lagi mau makan maupun minum sehingga seluruh kebutuhan cairannya dipenuhi melalui terapi intensif.
Keesokan harinya, suhu tubuh Jovi meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius.
Tim medis kembali memberikan terapi cairan melalui infus, cairan oral, hingga pemberian cairan melalui rektal sebagai upaya mempertahankan kondisi tubuhnya.
Namun seluruh ikhtiar tersebut tidak mampu menghentikan perkembangan penyakit. Sekitar pukul 20.43 WIB, Jovi mengalami tremor hebat sebelum akhirnya dinyatakan mati empat menit kemudian.
BBKSDA Riau menegaskan, seluruh proses penanganan telah dilakukan secara maksimal sesuai prosedur medis yang berlaku.
Hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab kematian Jovi sekaligus menjadi referensi penting dalam peningkatan pelayanan kesehatan satwa, khususnya bagi gajah Sumatera yang berada dalam program konservasi di Indonesia.





