RiauPekanbaru

Kisah Haru Santi, Temukan Ketenangan dalam Salat hingga Mantap Masuk Islam

×

Kisah Haru Santi, Temukan Ketenangan dalam Salat hingga Mantap Masuk Islam

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Suasana Masjid Raya An Nur Provinsi Riau siang itu terasa berbeda dari biasanya.

Usai Salat Jumat pada 24 Juli 2026, ratusan jamaah yang masih bertahan di dalam masjid menjadi saksi sebuah momen sakral yang penuh haru.

Seorang perempuan muda, Santi Mardalena Duha (24), berdiri dengan mata berkaca-kaca, bersiap mengucapkan dua kalimat syahadat.

Di hadapan pembimbing mualaf dan para jamaah, Santi tampak berusaha menenangkan diri.

Namun, ketika diminta mengungkapkan alasannya memeluk Islam, suaranya mulai bergetar.

Ia mengaku, keputusan tersebut bukanlah hal yang tiba-tiba, melainkan hasil dari perjalanan panjang pencarian batin.

Sejak beberapa waktu terakhir, Santi mulai tertarik mempelajari Islam.

Ketertarikan itu tumbuh perlahan, terutama saat ia melihat orang-orang melaksanakan salat.

Gerakan yang teratur dan khusyuk, serta lantunan doa yang menenangkan, membuat hatinya tersentuh.

“Setiap melihat orang salat, saya merasa ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan,” ucapnya lirih.

Baca Juga  Dukung Program Green Policing Kapolda Riau, PT PAJ Tanam Puluhan Pohon di Tenayan Raya

Rasa penasaran itu kemudian mendorongnya untuk belajar lebih dalam.

Ia mulai membaca, bertanya, dan memperhatikan praktik ibadah umat Muslim.

Dari situlah, keyakinan dalam dirinya perlahan terbentuk.

Puncaknya terjadi ketika ia merasakan ketenangan luar biasa saat mencoba memahami makna salat.

Baginya, Islam bukan sekadar agama, tetapi jalan yang memberikan kedamaian hati.

Saat prosesi syahadat dimulai, Santi tak mampu lagi menahan air mata.

Ia beberapa kali terhenti di tengah lafal karena tangis yang pecah.

Meski demikian, dengan bimbingan yang sabar, ia akhirnya berhasil menyelesaikan ikrar keislamannya.

Tangisnya bukan sekadar emosi, melainkan luapan rasa syukur atas perjalanan panjang yang akhirnya menemukan tujuan.

Jamaah yang menyaksikan pun ikut terharu, beberapa di antaranya terlihat mengusap air mata.

Baca Juga  Niat Tangkap Ular Berujung Petaka, Warga Rohil Terlilit hingga Koma

Setelah prosesi selesai, gema takbir menggema di seluruh ruangan masjid.

Santi menunduk, masih menangis, namun kini dengan wajah yang tampak lebih tenang.

Pembimbing mualaf kemudian memberikan pesan penting.

Ia menegaskan bahwa menjadi seorang Muslim bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga tentang akhlak dan sikap kepada sesama, terutama keluarga.

Santi pun menerima pesan tersebut dengan penuh kesadaran. Baginya, perjalanan ini baru dimulai.

Ia menyadari masih banyak hal yang harus dipelajari, namun keyakinannya sudah bulat.

Hari itu, Masjid Raya An Nur bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi lahirnya tekad baru seorang perempuan yang menemukan ketenangan dalam Islam.

Perjalanan Santi mungkin baru dimulai, tetapi langkahnya sudah mantap.

Di tengah haru dan doa yang mengiringi, ia kini menapaki kehidupan baru sebagai seorang Muslim dengan penuh harapan dan keyakinan.