EkonomiKampar

Mahasiswa KKN UNRI Sulap Air Kolam dan Daun Pepaya Jadi Pupuk Organik, Petani Desa Bukit Kratai Antusias

×

Mahasiswa KKN UNRI Sulap Air Kolam dan Daun Pepaya Jadi Pupuk Organik, Petani Desa Bukit Kratai Antusias

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa KKN UNRI Sulap Air Kolam dan Daun Pepaya Jadi Pupuk Organik, Petani Desa Bukit Kratai Antusias
Mahasiswa KKN UNRI Sulap Air Kolam dan Daun Pepaya Jadi Pupuk Organik, Petani Desa Bukit Kratai Antusias

INGATLAH.COM – Inovasi sederhana namun berdampak besar diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau (UNRI) di Desa Bukit Kratai, Kabupaten Kampar.

Dengan memanfaatkan air kolam bekas budidaya ikan dan daun pepaya yang selama ini terbuang percuma, mereka mengajak masyarakat beralih ke sistem pertanian organik yang lebih hemat biaya dan ramah lingkungan.

Program yang dilaksanakan pada pertengahan Juli 2026 itu menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal yang mudah diperoleh di sekitar desa.

Desa Bukit Kratai dikenal memiliki banyak kolam budidaya ikan air tawar serta pepohonan pepaya yang tumbuh di pekarangan warga.

Namun, air kolam bekas dan daun pepaya selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal, bahkan kerap dianggap sebagai limbah.

Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN UNRI mengolah air kolam menjadi pupuk organik cair (POC), sementara daun pepaya dimanfaatkan sebagai bahan dasar pestisida nabati yang aman bagi tanaman dan lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menggelar pelatihan yang melibatkan kelompok tani, ibu-ibu PKK, serta masyarakat Desa Bukit Kratai.

Baca Juga  UNRI Kukuhkan 4 Guru Besar, Perkuat Reputasi Internasional dan Akreditasi Unggul

Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik langsung mengenai cara membuat pupuk organik cair dan pestisida alami menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Olivia Wilona, salah satu mahasiswa KKN UNRI menjelaskan bahwa air kolam ikan mengandung unsur hara penting seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang berasal dari sisa pakan serta kotoran ikan.

“Kandungan tersebut sangat bermanfaat untuk menunjang pertumbuhan tanaman,” katanya.

Sementara itu, daun pepaya memiliki kandungan enzim papain dan senyawa alkaloid yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk membantu mengendalikan hama, seperti ulat dan kutu daun, tanpa meninggalkan residu kimia yang berpotensi merusak kesuburan tanah.

Agar mudah diterapkan masyarakat, proses pembuatan pupuk organik cair dan pestisida nabati disampaikan dengan metode sederhana.

Olivia berharap warga dapat memproduksinya secara mandiri sehingga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pupuk dan pestisida kimia yang harganya terus meningkat.

Program tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Kepala Desa Bukit Kratai, Supriamuji S.P., bersama Kepala Dusun II, Jumari, menyampaikan apresiasi atas kepedulian mahasiswa KKN Universitas Riau yang menghadirkan solusi praktis bagi petani.

Baca Juga  Viral Promosi Judi di Kampar, Aparat Gabungan Musnahkan Dua Lokasi Sabung Ayam

Menurut Jumari, pelatihan tersebut membuka wawasan masyarakat bahwa bahan-bahan yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata memiliki nilai ekonomi dan manfaat besar bagi sektor pertanian.

“Selama ini kami kesulitan membeli pupuk kimia yang harganya terus naik dan terkadang langka di pasaran. Dengan adanya pelatihan dari mahasiswa KKN UNRI ini, kami sadar bahwa obat dan nutrisi untuk tanaman sebenarnya ada di sekeliling kami, gratis, dan ramah lingkungan,” ujar Jumari.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Universitas Riau tidak hanya menjalankan kewajiban akademik dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga mendorong tumbuhnya semangat kemandirian serta kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Inisiatif tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Bukit Kratai dan menjadi contoh bagi desa-desa lain di Provinsi Riau dalam menerapkan sistem pertanian organik yang lebih berkelanjutan, efisien, dan berbasis potensi lokal.