Riau

Ketua SEMMI: Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Gagasan, Bukan SDA

×

Ketua SEMMI: Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Gagasan, Bukan SDA

Sebarkan artikel ini
Ketua SEMMI: Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Gagasan, Bukan SDA
Ketua SEMMI: Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Gagasan, Bukan SDA

INGATLAH.COM – Mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dan derasnya investasi.

Yang jauh lebih menentukan adalah kualitas sumber daya manusia, kekuatan institusi, serta lahirnya tradisi berpikir yang mampu melahirkan gagasan-gagasan besar bagi masa depan bangsa.

Pandangan itu disampaikan Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Pekanbaru, Ihkram Mulya, dalam sebuah opini yang mengulas tantangan Indonesia menuju satu abad kemerdekaan pada 2045.

Menurut Ihkram, Indonesia Emas sejatinya merupakan proyek besar pembangunan peradaban.

Karena itu, pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka-angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan bangsa mencetak manusia yang unggul, berintegritas, dan memiliki daya pikir kritis.

“Indonesia Emas 2045 pada hakikatnya adalah proyek pembangunan peradaban yang harus ditopang oleh kualitas manusia dan gagasan,” ujarnya.

Ia mengutip pemikiran ilmuwan politik Benedict Anderson yang menyebut bangsa sebagai imagined community atau komunitas yang dipersatukan oleh cita-cita bersama.

Menurut Ihkram, cita-cita tersebut tidak lahir secara otomatis, melainkan dibangun melalui pendidikan, organisasi, dan ruang publik yang sehat.

“Karena itu, kemajuan bangsa selalu bergantung pada kualitas gagasan yang tumbuh di tengah masyarakat,” tulisnya.

Ihkram juga mengaitkan pandangannya dengan teori ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, yang menempatkan manusia sebagai tujuan utama pembangunan.

Baca Juga  HUT ke-81 TNI, Kapolres Bengkalis Tegaskan TNI-Polri Harus Kompak Hadapi Tantangan Keamanan

Baginya, pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi tidak akan bermakna tanpa diikuti pemerataan akses pendidikan, layanan kesehatan, kesempatan kerja, dan ruang partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru.

Arus informasi yang begitu cepat memang membuka akses pengetahuan yang luas, namun juga memicu polarisasi, penyebaran disinformasi, hingga menurunnya kualitas diskusi di ruang publik.

Mengutip filsuf Jürgen Habermas, Ihkram menilai demokrasi hanya akan tumbuh sehat apabila ruang publik dipenuhi dialog yang rasional dan argumentatif, bukan sekadar pertarungan opini atau narasi yang membelah masyarakat.

Dalam opininya, Ihkram juga menyoroti warisan intelektual Syarikat Islam yang dirintis Haji Samanhoedi dan dikembangkan H.O.S. Tjokroaminoto.

Menurutnya, organisasi tersebut bukan hanya menjadi pelopor gerakan politik, tetapi juga melahirkan tradisi berpikir, kemandirian ekonomi, dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai.

“Warisan terbesarnya bukan hanya organisasi, tetapi keyakinan bahwa ilmu pengetahuan merupakan fondasi perubahan sosial,” katanya.

Karena itu, Ihkram menilai organisasi kemahasiswaan, termasuk SEMMI, harus mampu bertransformasi menjadi pusat lahirnya gagasan dan solusi atas berbagai persoalan bangsa.

Baca Juga  Hari Bhayangkara ke-79, Polda Riau Perkuat Soliditas Lewat Lomba Menembak

Organisasi mahasiswa tidak boleh berhenti sebagai wadah kegiatan seremonial atau kaderisasi semata, tetapi harus menjadi ruang yang membangun budaya membaca, meneliti, menulis, dan berdialog.

Ia juga mendorong perguruan tinggi kembali menjalankan perannya sebagai tempat tumbuhnya intelektual publik yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut Ihkram, relevansi organisasi mahasiswa pada masa kini tidak diukur dari banyaknya agenda yang diselenggarakan, melainkan dari kualitas pemikiran dan kontribusi nyata terhadap kepentingan publik.

Ia mengingatkan kembali pesan H.O.S. Tjokroaminoto, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” sebagai prinsip yang tetap relevan dalam membangun pemimpin yang berintegritas, berkapasitas, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Menutup pandangannya, Ihkram menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak akan ditentukan semata-mata oleh melimpahnya sumber daya alam ataupun besarnya investasi.

Keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan bangsa membangun tradisi intelektual yang melahirkan kebijakan yang adil, institusi yang kuat, serta kepemimpinan yang berintegritas.

“Dalam konteks itulah warisan intelektual Syarikat Islam tetap relevan, dan SEMMI ditantang membuktikan bahwa gagasan adalah kekuatan utama dalam membangun masa depan Indonesia,” tutupnya.