INGATLAH.COM – Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto mulai dirasakan manfaatnya oleh keluarga kurang mampu di Provinsi Riau.
Tak hanya membuka akses pendidikan gratis, program tersebut juga dinilai mampu mengubah karakter dan memberikan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Hal itu terungkap saat Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, berdialog dengan para orang tua siswa di Sentra Kreasi Atensi Abiseka Pekanbaru, Minggu (14/6/2026).
Salah satunya disampaikan Ratna Yurnita, ibu dari Cahaya Marlina yang akan menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 3 Kota Pekanbaru.
Di hadapan Menteri Sosial, Ratna menceritakan perjuangannya membesarkan anak seorang diri setelah berpisah dengan suaminya.
Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia mengaku sempat kehilangan harapan untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi.
“Sejujurnya, saya menghidupi anak-anak sendirian karena sudah berpisah dengan ayah mereka. Dengan kondisi ekonomi kami, rasanya mustahil bisa menyekolahkan anak hingga mendapatkan pendidikan yang layak,” ungkap Ratna.
Menurutnya, kehadiran Program Sekolah Rakyat menjadi titik terang bagi keluarganya. Bahkan, Cahaya Marlina menjadi anak kedua dalam keluarganya yang merasakan manfaat program tersebut.
Sebelumnya, putra sulungnya telah lebih dulu menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 31 Pekanbaru.
“Cahaya adalah anak kedua saya yang akan masuk Sekolah Rakyat. Abangnya sudah lebih dulu sekolah di SRMA 31. Kami sangat terbantu dengan program ini. Perubahan anak kami sangat terasa, terutama dalam hal kedisiplinan dan semangat belajar,” katanya.
Ratna berharap pendidikan yang diperoleh kedua anaknya dapat menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarga mereka di masa depan.
“Harapan saya, anak-anak ini bisa berhasil dan mengangkat derajat keluarga kami dari kemiskinan,” ujarnya.
Cerita serupa juga disampaikan Nurmaida, orang tua dari Salsabila, siswi SRMP 3 Pekanbaru. Ia mengaku melihat perubahan besar pada diri putrinya sejak mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
Menurut Nurmaida, sebelum bersekolah di sana, Salsabila dikenal sebagai anak yang pemalu dan sulit bergaul karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan.
“Kami tidak memiliki rumah sendiri dan hanya menumpang di gubuk milik orang lain. Karena kondisi itu, anak saya sering merasa minder dan terkadang dikucilkan dalam pergaulan,” tuturnya.
Namun setelah bergabung di Sekolah Rakyat, Salsabila mulai menunjukkan perubahan positif.
Ia menjadi lebih percaya diri, berani berinteraksi dengan teman-temannya, serta mampu menunjukkan kemampuan dan bakat yang selama ini terpendam.
“Sekarang anak saya jauh lebih berani, lebih pintar, dan mulai bisa menunjukkan minat serta bakatnya. Perubahannya sangat terasa bagi kami sebagai orang tua,” ungkap Nurmaida.
Ia pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah atas hadirnya Program Sekolah Rakyat yang telah membuka peluang pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden. Anak kami akhirnya bisa bersekolah dan memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik. Kalau tidak ada Sekolah Rakyat, mungkin anak kami tidak akan pernah mengenyam pendidikan seperti sekarang,” pungkasnya.
Kisah Ratna dan Nurmaida menjadi gambaran nyata bagaimana Program Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses pendidikan gratis, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi keluarga kurang mampu untuk keluar dari lingkaran kemiskinan melalui pendidikan.





