Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi budaya digital, masih terdapat warisan budaya yang terus bertahan sebagai penanda identitas suatu masyarakat. Salah satunya adalah kesenian Syaroful Anam yang hidup dan berkembang di Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Bagi masyarakat Sungai Pinang, Syaroful Anam bukan sekadar pertunjukan seni. Kesenian ini merupakan perpaduan antara nilai keagamaan, tradisi Melayu, pendidikan karakter, dan ikatan sosial yang telah diwariskan lintas generasi selama lebih dari satu abad.
- Warisan Islam yang Berakar Kuat di Sumatera Selatan
Syaroful Anam merupakan seni salawat yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dalam penyajiannya, kesenian ini memadukan lantunan syair religius, tabuhan rebana, serta tarian Rudat yang sarat makna. Secara historis, keberadaan Syaroful Anam diyakini hadir bersamaan dengan perkembangan Islam di Sumatera Selatan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kesenian ini dibawa oleh para ulama Palembang yang memiliki hubungan keilmuan dengan Timur Tengah pada sekitar abad ke-18.
Seiring berkembangnya Islam di wilayah Sumatera Selatan, Syaroful Anam tumbuh menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Kesenian ini hadir dalam berbagai momentum penting seperti peringatan hari besar Islam, arakan pengantin, penyambutan tamu, pengajian, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Tidak mengherankan apabila sejak tahun 1950-an hingga awal 2000-an, Syaroful Anam menjadi salah satu bentuk hiburan rakyat yang paling digemari sekaligus media dakwah yang efektif di tengah masyarakat.
- Sungai Pinang dan Jejak Panjang Tradisi Syaroful Anam
Di Kecamatan Sungai Pinang, tradisi ini telah dikenal sejak awal abad ke-20. Berdasarkan penuturan para tokoh masyarakat dan pelaku seni setempat, Syaroful Anam telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak masa penjajahan.
Akmal (70), salah seorang anggota senior kelompok Syaroful Anam, menuturkan bahwa dirinya merupakan generasi ketiga yang mewarisi tradisi tersebut dari garis keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa Syaroful Anam tidak hanya diwariskan melalui lembaga atau komunitas, tetapi juga melalui lingkungan keluarga dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Masyarakat Sungai Pinang bahkan menganggap Syaroful Anam sebagai salah satu identitas budaya asli daerah mereka.
Tidak sedikit warga yang menyatakan bahwa ketika mendengar tabuhan rebana dan lantunan salawat khas Syaroful Anam, mereka langsung teringat pada kampung halaman dan masa-masa ketika tradisi tersebut masih sangat aktif ditampilkan.

- Keunikan yang Tidak Dimiliki Daerah Lain
Dari berbagai kelompok Syaroful Anam yang berkembang di Sumatera Selatan, kelompok Sungai Pinang memiliki karakteristik tersendiri. Keunikan tersebut terlihat pada pola tabuhan rebana yang lebih dinamis serta tarian Rudat yang telah mengalami proses akulturasi dengan budaya Melayu setempat. Gerakan-gerakannya tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap pertunjukan, tetapi menjadi bagian penting dari narasi dan ekspresi spiritual yang disampaikan kepada penonton.
Perpaduan antara syair salawat, irama rebana, dan gerakan tari menciptakan pengalaman artistik yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan religius masyarakat. Banyak warga mengaku merasakan suasana haru, khidmat, sekaligus bangga ketika menyaksikan pertunjukan Syaroful Anam. Tepuk tangan dan sorak apresiasi sering kali terdengar setiap kali terjadi pergantian formasi tari atau perubahan ritme tabuhan rebana. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama Syaroful Anam bukan hanya terletak pada aspek pertunjukannya, tetapi juga pada kemampuannya membangun hubungan emosional antara pemain dan penonton.
- Masa Keemasan di Era Alm. Ustad Robin Hud
Pembahasan mengenai Syaroful Anam Sungai Pinang tidak dapat dilepaskan dari sosok almarhum Robin Hud, tokoh budaya yang dikenal sebagai penggerak utama pelestarian tradisi ini. Melalui wadah LADAS (Lembaga Adat dan Budaya Asli Sungai Pinang), Robin Hud berhasil membangkitkan semangat generasi muda untuk mencintai budaya daerahnya.
Pada masa itu, hampir setiap sore hingga malam hari, halaman rumahnya dipenuhi para pemuda yang belajar menabuh rebana, menghafal syair salawat, dan berlatih gerakan tari Rudat. Berkat dedikasinya, berbagai inovasi berhasil dilakukan tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang menjadi ruh kesenian tersebut. Pola gerak tari menjadi lebih estetis, irama musik lebih kaya, dan kualitas pertunjukan semakin baik. Kelompok Syaroful Anam Sungai Pinang pun sering tampil dalam berbagai festival budaya, perlombaan, hingga kegiatan adat dan keagamaan di berbagai daerah. Nama Sungai Pinang semakin dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian Syaroful Anam di Sumatera Selatan.
- Ketika Tradisi Mulai Kehilangan Ruhnya
Namun, kondisi tersebut perlahan berubah setelah wafatnya Robin Hud pada tahun 2017. Bagi masyarakat Sungai Pinang, kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang pelatih, melainkan kehilangan figur sentral yang selama ini menjadi sumber motivasi dan penggerak utama komunitas. Latihan mulai berkurang. Pertunjukan tidak lagi sesering dahulu. Generasi muda yang terlibat juga semakin sedikit. Bahkan sebagian warga menyebut bahwa Syaroful Anam kini seperti kehilangan “nyawa” karena suasana yang dahulu hidup dengan tabuhan rebana dan lantunan salawat kini jarang terdengar. Padahal, kerinduan masyarakat terhadap kesenian ini masih sangat besar. Antusiasme warga ketika ada pertunjukan menunjukkan bahwa Syaroful Anam masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Sungai Pinang.

- Dimensi Psikologis Tradisi
Selain nilai budaya dan religius, Syaroful Anam memiliki dimensi psikologis yang signifikan, baik bagi individu maupun komunitas. Dalam perspektif psikologi Islam sebagaimana dikembangkan oleh Abdul Mujib, kebahagiaan tidak hanya dipahami sebagai rasa senang, puas, atau nyaman secara emosional. Kebahagiaan dipandang sebagai kondisi batin yang utuh ketika unsur fisik, psikologis, sosial, dan spiritual manusia berada dalam harmoni dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia, dan alam. Konsep ini relevan untuk membaca kembali makna Syaroful Anam di Sungai Pinang, sebab tradisi ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan ketenangan batin, kebersamaan sosial, dan kedekatan spiritual.
Melalui lantunan salawat, tabuhan rebana, dan gerakan Rudat, Syaroful Anam menghadirkan pengalaman religius yang menyentuh aspek terdalam manusia. Para pemain dan penonton tidak hanya menikmati keindahan seni, tetapi juga diajak memasuki suasana dzikir, pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dan penghayatan terhadap nilai-nilai Islam. Dalam kerangka psikologi Islam, pengalaman seperti ini dapat dipahami sebagai jalan menuju qurb ilallah, yaitu kedekatan batin dengan Allah, karena aktivitas seni tidak berhenti pada ekspresi estetis, tetapi diarahkan kepada penguatan iman, ibadah, dan akhlak.
Kebahagiaan yang lahir dari Syaroful Anam bukan sekadar kebahagiaan emosional yang bersifat sesaat. Ia lebih dekat dengan kebahagiaan transenden, yaitu rasa tenteram karena manusia merasa hidupnya terhubung dengan makna yang lebih tinggi. Ketika masyarakat Sungai Pinang berkumpul, bersalawat, menabuh rebana, dan menjaga tradisi leluhur, mereka sedang membangun ma’na al-hayah atau makna hidup. Tradisi ini memberi pesan bahwa hidup tidak hanya diukur dari kemajuan materi, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga nilai tauhid, memperkuat ibadah, memelihara akhlak, dan memberi manfaat bagi lingkungan sosialnya.
Dari sisi kesehatan mental, Syaroful Anam juga dapat menjadi sarana ithmi’nan atau ketenangan hati. Irama rebana yang teratur, lantunan salawat yang khusyuk, dan suasana kebersamaan dapat membantu meredakan kegelisahan, mengurangi tekanan batin, serta menghadirkan rasa aman secara emosional. Namun, ketenangan ini bukan hanya muncul karena unsur musik atau kebersamaan, melainkan karena tradisi tersebut mengandung orientasi spiritual yang jelas. Di sinilah letak perbedaan penting antara hiburan biasa dan seni religius seperti Syaroful Anam. Hiburan biasa mungkin memberi kesenangan sesaat, tetapi Syaroful Anam memberi ruang bagi manusia untuk mengingat Allah, menata hati, dan memperkuat hubungan spiritualnya.
Dalam konteks psychological wellbeing, Syaroful Anam membantu individu menemukan tujuan hidup, membangun penerimaan diri, menumbuhkan disiplin, dan mengembangkan potensi melalui proses latihan yang berulang. Sementara dalam konteks social wellbeing, tradisi ini memperkuat rasa memiliki, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Seluruh aspek tersebut sejalan dengan gagasan Abdul Mujib bahwa kebahagiaan manusia bersifat menyeluruh dan tidak dapat dilepaskan dari relasi dengan Allah dan sesama. Artinya, seseorang tidak cukup disebut bahagia hanya karena merasa nyaman secara pribadi, tetapi juga ketika hidupnya bernilai, bermanfaat, dan terarah pada kebaikan.
Revitalisasi Syaroful Anam di Sungai Pinang memiliki urgensi yang lebih dalam daripada sekadar pelestarian seni tradisional. Revitalisasi ini berarti menghidupkan kembali ruang spiritual, sosial, dan psikologis yang mampu membentuk manusia yang lebih tenang, bermakna, berakhlak, dan dekat dengan Allah. Jika tradisi ini hilang, masyarakat tidak hanya kehilangan warisan budaya, tetapi juga kehilangan salah satu media lokal yang selama ini membantu membangun kebahagiaan dunia-akhirat melalui salawat, kebersamaan, dan amal kebudayaan yang bernilai ibadah.
- Mengapa Generasi Z Mulai Menjauh?
Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menarik kembali minat generasi muda. Ada beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya ketertarikan generasi Z terhadap Syaroful Anam.
Pertama, perubahan pola hiburan akibat perkembangan teknologi digital. Generasi muda saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dan platform hiburan digital dibandingkan mengikuti kegiatan budaya tradisional. Kedua, banyak syair Syaroful Anam menggunakan bahasa Arab klasik yang sulit dipahami oleh sebagian anak muda. Akibatnya, mereka hanya menikmati iramanya tanpa memahami makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Ketiga, masih muncul stigma bahwa kesenian tradisional merupakan sesuatu yang kuno dan kurang menarik dibandingkan tren budaya populer seperti K-Pop, musik modern, atau konten viral di internet. Keempat, proses kaderisasi yang belum berjalan optimal. Metode pembelajaran yang masih konvensional sering kali kurang sesuai dengan karakter generasi digital yang menginginkan pembelajaran lebih interaktif dan fleksibel. Kelima, budaya instan yang berkembang di era media sosial membuat aktivitas yang membutuhkan kesabaran dan proses panjang seperti mempelajari Syaroful Anam dianggap kurang menarik.
- Saatnya Revitalisasi Budaya Berbasis Teknologi
Meski menghadapi berbagai tantangan, masa depan Syaroful Anam sesungguhnya masih sangat terbuka. Pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara lama. Tradisi dapat tetap dijaga sambil memanfaatkan teknologi modern sebagai media pengembangan. Pertunjukan Syaroful Anam misalnya dapat dikemas dengan dukungan visual digital seperti projection mapping, tata cahaya modern, dan dokumentasi sinematografi yang lebih menarik. Gerakan tari Rudat dapat dipromosikan melalui video pendek di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Dokumenter singkat mengenai sejarah tokoh-tokoh Syaroful Anam, proses latihan, hingga pembuatan alat musik tradisional juga dapat menjadi konten edukatif yang menarik bagi generasi muda.
Selain itu, pembelajaran dapat dilakukan melalui platform digital, video tutorial, hingga teknologi Virtual Reality (VR) yang memungkinkan anak-anak muda mengenal dan mempelajari Syaroful Anam dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Revitalisasi ini penting dilakukan agar Syaroful Anam tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga berkembang menjadi warisan budaya yang hidup, relevan, dan dicintai oleh generasi masa depan.
- Menjaga Identitas, Merawat Peradaban
Pada akhirnya, Syaroful Anam bukan hanya soal tabuhan rebana atau lantunan salawat. Kesenian ini menyimpan jejak sejarah panjang perjalanan Islam, nilai-nilai kebersamaan, pendidikan moral, dan identitas budaya masyarakat Sungai Pinang. Ketika sebuah tradisi hilang, yang hilang bukan sekadar pertunjukannya. Yang ikut menghilang adalah memori kolektif, nilai-nilai kehidupan, dan jati diri suatu masyarakat. Karena itu, menjaga Syaroful Anam berarti menjaga warisan peradaban yang telah dibangun oleh para pendahulu. Sebuah warisan yang layak untuk terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
Tradisi Syaroful Anam lebih dari seni tradisional. Ia membentuk karakter individu, memperkuat solidaritas sosial, dan memberikan pengalaman spiritual yang meningkatkan psychological wellbeing, social wellbeing, dan resilience masyarakat. Kehilangan tradisi ini berarti hilangnya ruang psikologis dan sosial yang menopang kesejahteraan mental dan spiritual warga Sungai Pinang. Revitalisasi Syaroful Anam melalui pendekatan kreatif, edukatif, dan digital menjadi sangat penting. Dengan cara ini, tradisi tidak hanya bertahan sebagai peninggalan leluhur, tetapi juga berkembang menjadi identitas budaya yang relevan, dicintai, dan memberi manfaat psikologis bagi generasi masa depan.
Ditulis oleh:
Dr. Rizki Amaliyah, S.Psi.I.,MA.Si
(Dosen Fakultas Sosial dan Humaniora-Prodi Psikologi Universitas Bina Darma)





