INGATLAH.COM – Korban begal di Jalan Perkebunan Kelapa Sawit Dusun III, Desa Pangkalan Panduk, Kecamatan Kerumutan Kabupaten Pelalawan pada Jumat (29/5/2026) ternyata kakak beradik.
Dikutip dari pemberitaan Inews.id, korban tewas adalah adalah sang kakak bernama Julfan Setia Hulu (20), sementara adiknya yang selamat dari insiden maut itu bernama Jelvi Hulu (15).
Dalam berita itu dijelaskan, Julfan tewas setelah mengalami luka parah di bagian kepala.
Sementara Jelvi berhasil selamat meski mengalami luka dan lebam akibat dipukul serta sempat diikat di lokasi kejadian.
Berdasarkan keterangan Jelvi, peristiwa bermula sekitar pukul 16.30 WIB saat dirinya bersama sang kakak pulang usai membeli air minum isi ulang menggunakan sepeda motor Honda Revo warna merah.
Saat melintasi jalan perkebunan yang sepi dan jauh dari permukiman warga, mereka dihentikan seorang pria tak dikenal yang mengaku sepeda motornya mogok.
Pria tersebut meminta bantuan agar motornya ditarik ke bengkel terdekat.
“Karena merasa kasihan, kami turun dari motor untuk membantu. Kami berjalan mendekati motor pelaku yang berada sekitar 30 meter dari lokasi kami berhenti,” ujar Jelvi, Minggu (31/5/2026).
Namun, niat baik mereka justru dimanfaatkan pelaku.
Saat berjalan mendekati motor tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria lain dari arah belakang sambil mengacungkan parang.
Merasa terancam, kakak beradik itu langsung berusaha menyelamatkan diri dengan berlari.
Namun, keduanya berhasil dikejar oleh para pelaku.
Jelvi mengaku dipukul menggunakan balok kayu secara bertubi-tubi hingga terjatuh.
Untuk menghindari serangan lanjutan, remaja berusia 15 tahun itu berpura-pura pingsan.
Melihat korban tidak bergerak, para pelaku kemudian mengikat tangan dan kaki Jelvi menggunakan tali.
Dalam kondisi terikat, ia masih sempat mendengar suara kakaknya berteriak meminta pertolongan.
“Tidak lama kemudian suara kakak saya hilang. Setelah itu saya mendengar suara motor Revo kami seperti dibawa kabur,” katanya.
Sekitar pukul 19.00 WIB, Jelvi berhasil melepaskan ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya.
Ia kemudian mencari keberadaan sang kakak yang terpisah darinya saat kejadian.
Julfan akhirnya ditemukan tergeletak di semak-semak dengan kondisi kepala bersimbah darah.
Menyadari kondisi kakaknya kritis, Jelvi berlari sejauh sekitar empat kilometer menuju rumah untuk meminta bantuan.
Mendapat kabar tersebut, keluarga dan warga langsung mendatangi lokasi kejadian.
Korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke Puskesmas Rawat Inap Bunut sekitar pukul 21.30 WIB.
Namun, nyawa Julfan tidak dapat diselamatkan akibat pendarahan hebat yang dialaminya.
Jenazah korban sempat disemayamkan di rumah kerabatnya di Jalan Sakura, Kecamatan Pangkalan Kerinci.
Pada Minggu (31/5/2026), Julfan dimakamkan di Tempat Pemakaman Persatuan Keluarga Nias Pelalawan, Desa Kemang.
Pihak keluarga korban telah melaporkan kasus tersebut ke Polsek Kerumutan dan Polres Pelalawan.
Mereka berharap aparat kepolisian segera menangkap para pelaku yang dinilai sangat sadis.
Kuasa hukum keluarga korban dari Ikatan Keluarga Nias, Eprisman Arianjaya, mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian.
“Kami sangat berharap Polsek Kerumutan dan Polres Pelalawan dapat segera mengungkap dan menangkap para pelaku pembegalan ini agar mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujarnya.
Hingga kini, polisi masih melakukan penyelidikan dan memburu para pelaku.
Sejumlah ciri-ciri pelaku telah dikantongi penyidik berdasarkan keterangan korban selamat dan saksi-saksi yang telah diperiksa.





