BATUSANGKAR – Alek Gadang Manjalang Induak Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkapeh Banda Sapuluah Kerabat Pagaruyung sukses digelar selama tiga hari.
Alek itu digelar Jumat hingga Ahad (10-12 April 2026) di Istana Silinduang Bulan Batu, Pagaruyung Batusangkar.
Perhelatan adat ini menjadi momentum penting dalam mempererat kembali tali kekerabatan kaum sekaligus meneguhkan nilai-nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK) dalam ranji limbago Pagaruyung.
Puncak acara ditandai dengan prosesi sakral pelewaan adat terhadap Bundo Ietje bersama putrinya, Renobulan Rizal Sini Suheimi, sebagai induak dalam Kaum Suku Malayu Koto Tuo Kerabat Pagaruyung.
Prosesi berlangsung di Anjung Perak Istana Silinduang Bulan dan ditandai dengan pemasangan selendang oleh Prof. Dr. Raudha Thaib.
Tak hanya itu, alek gadang ini juga diwarnai penganugerahan gelar adat Minangkabau kepada tiga kamanakan dari paruik Ibu Ietje.
Ivan Rizal Sini dikukuhkan sebagai Rajo Sampono Alam, Mesha Rizal Sini sebagai Sutan Sampono, dan Rito Alam Rizal Sini sebagai Sutan Batuah.
Prosesi pelewaan gelar dilakukan langsung oleh Sultan Dr. Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah selaku Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau Darul Qarar Pagaruyung.
Rangkaian prosesi ditandai dengan pemasangan selempang dan pengimbauan gelar di pasa nan rami dan labuah nan golong, diawali dari kerapatan adat di lingkungan Istana Silinduang Bulan.
Dalam sambutannya, Ivan Rizal Sini yang kini menyandang gelar Rajo Sampono Alam mengungkapkan rasa syukur dan haru atas terlaksananya alek gadang tersebut.
Menurutnya, pelewaan induak dan penganugerahan gelar menjadi tonggak penting dalam sejarah kaum.
“Dengan telah dilewakannya induak dan gelar kami, maka kami kamanakan merasa indak sumbing lai sebagai urang Minangkabau. Kami telah kembali utuh dalam adat dan sah menjadi bagian dari anak kamanakan Rajo Alam Pagaruyung,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen untuk menjaga marwah kaum, memperkuat tali rahim, serta mengamalkan nilai-nilai filosofi adat Minangkabau seperti ABS-SBK, Syara’ Mangato Adat Mamakai, dan Alam Takambang Jadi Guru.
Sementara itu, Payung Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkapeh Banda Sapuluah, Datuk Sampono Batuah, menegaskan bahwa prosesi Manjalang Induak bukan sekadar seremoni adat, melainkan bentuk penguatan tali pusako serta peneguhan hubungan mamak dan kamanakan.
“Momentum ini menjadi tonggak kokoh sejarah kaum sekaligus mempererat silaturahmi kerabat dalam ranji limbago Pagaruyung,” katanya.
Hal senada disampaikan Mandeh Sako Kaum Malayu Koto Tuo Batangkapeh, Helgawati.
Ia mengaku terharu dan bangga atas terselenggaranya alek gadang tersebut, yang dinilainya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar kaum.
Prof. Dr. Raudha Thaib turut menyampaikan rasa haru atas kepulangan anak kemenakan ke ranah asalnya. Menurutnya, prosesi manjalang induak menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi seorang mandeh.
“Sudah lama tak pulang, kini kembali ke Istana Silinduang Bulan. Tentu ini momen yang patut disambut dan diparalekkan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan alek gadang secara lengkap, termasuk tradisi penyembelihan kerbau sebagai bentuk penghormatan adat.
Sementara itu, Sultan Dr. Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah menegaskan bahwa hubungan kekerabatan dalam adat Minangkabau bukan sekadar simbol, melainkan harus terus dirawat melalui silaturahmi dan penelusuran hubungan genealogis.
Menurutnya, Ranji Limbago merupakan peta besar kekerabatan Minangkabau yang menghubungkan nagari dan kerajaan kerabat hingga ke berbagai daerah di Nusantara bahkan mancanegara.
“Setiap gelar adat bukan hanya simbol kebesaran, tetapi amanah besar untuk menjaga keluarga, suku, kampung, dan nagari,” tegasnya.
Ia berharap momentum Manjalang Induak ini dapat menjadi model dalam memperkuat hubungan kerabat Pagaruyung di berbagai rantau serta diaspora Minangkabau di seluruh dunia.
Sebelumnya, Kaum Suku Malayu Koto Tuo telah lebih dulu melaksanakan prosesi manapek pada 18 November 2025 sebagai bagian awal masuknya Ietje Rizal Sini ke dalam kaum.
Prosesi tersebut ditandai dengan penyembelihan sapi dan kerapatan ninik mamak di Rumah Gadang kaum.
Sebagai puncaknya, Alek Gadang Manjalang Induak di Istana Silinduang Bulan menjadi penegasan sahnya posisi dalam ranji limbago Pagaruyung, sekaligus simbol kembalinya tali kekerabatan yang sempat terputus.
Dengan berakhirnya seluruh rangkaian acara, alek gadang ini tidak hanya menjadi peristiwa adat, tetapi juga tonggak penting dalam menghidupkan kembali jati diri, sejarah, dan persatuan kaum dalam bingkai adat Minangkabau.





