PekanbaruUtama

Kisah Mualaf Jerlipa Br. Panjaitan, Mantap Ucap Syahadat di Masjid Annur Riau

×

Kisah Mualaf Jerlipa Br. Panjaitan, Mantap Ucap Syahadat di Masjid Annur Riau

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Kisah mualaf sukses menjemput hidayah Islam kembali datang dari Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau, Jumat (27/2/2026).

Di bawah kubah hijau yang menjulang megah, ratusan jamaah menjadi saksi sebuah keputusan besar dalam hidup seorang perempuan muda.

Namanya Jerlipa Br. Panjaitan. Lahir di Aek Kanopan, Sumatera Utara, tahun 2005.

Perempuan yang belum menikah itu resmi memeluk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan jamaah.

Dengan suara lirih namun penuh keteguhan, Jerlipa menuntun kalimat syahadat yang dipimpin Pengurus Mualaf Center Riau, Ir. H. Rubianto.

Suasana masjid yang sebelumnya dipenuhi lantunan zikir mendadak hening. Beberapa jamaah tampak menyeka air mata saat takbir menggema usai prosesi.

Baca Juga  Tanam Jagung di Okura Pekanbaru, Begini Kata Wamen Pertanian Sudaryono

Kepada jamaah, Jerlipa mengungkapkan bahwa keputusannya memeluk Islam bukanlah hasil paksaan.

Ia mengaku proses tersebut bermula dari rasa ingin tahu yang tumbuh perlahan.

“Saya sering melihat teman-teman beribadah. Saya juga tinggal di lingkungan mayoritas Muslim,” ujarnya singkat.

Interaksi dan pengamatan itu, kata dia, menghadirkan ketenangan batin yang sulit dijelaskan.

Seiring waktu, ia merasakan panggilan hati yang semakin kuat hingga akhirnya mantap mengambil langkah besar tersebut.

Jerlipa juga mengakui memiliki keinginan untuk menikah dengan pria Muslim.

Baca Juga  Layani Masyarakat di Perairan, Kapolda Riau Luncurkan Program Jalur

Namun ia menegaskan, keputusannya memeluk Islam bukan semata karena rencana pernikahan, melainkan lahir dari keyakinan pribadi yang telah tumbuh dalam dirinya.

Prosesi berlangsung khidmat dan penuh haru. Usai pengucapan syahadat, para jamaah satu per satu menyalami Jerlipa, menyampaikan ucapan selamat dan doa agar ia istiqamah dalam menjalani kehidupan barunya.

Di bawah naungan kubah Masjid Raya An-Nur, hari itu menjadi titik balik perjalanan spiritual seorang perempuan muda sebuah langkah sunyi yang kini disaksikan ratusan pasang mata dan menjadi awal babak baru dalam hidupnya.