Opini

Marhaban Ya Ramadan: Ketika Masjid Penuh, Adab Jangan Sampai Luruh

×

Marhaban Ya Ramadan: Ketika Masjid Penuh, Adab Jangan Sampai Luruh

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Tahun ini awal Ramadan 1447 Hijriyah jatuh pada 19 Februari 2026. Kesempatan ini tak akan datang untuk kedua kalinya.

Awal Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ada getar haru yang sulit dijelaskan ketika takbir pertama menggema, saf-saf salat Isya dan tarawih memanjang hingga ke teras, bahkan halaman masjid.

Jumlah jamaah melonjak drastis, bahkan bisa mencapai sepuluh kali lipat dibanding hari biasa. Masjid yang sebelumnya agak lengang, mendadak penuh sesak oleh umat yang rindu akan keberkahan.

Pemandangan itu sungguh mengagumkan. Ramadan seakan menjadi magnet spiritual yang menyatukan hati. Orang-orang yang mungkin jarang terlihat di saf masjid, kini hadir dengan wajah berseri.

Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbondong-bondong datang. Inilah wajah Islam yang hidup ramai, hangat, dan penuh semangat ibadah.

Bulan penuh berkah memang layak disambut dengan kebahagiaan. Salah satu caranya tentu dengan memperbanyak amalan baik.

Amalan baik itu salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbaiki diri. Trik paling jitu untuk beribadah adalah harus memaksakan diri untuk memulainya.

Baca Juga  Khairul Jasmi: Aceh Tamiang Kalian Tidak Sendiri

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum pembaruan jiwa. Namun, di tengah kegembiraan itu, muncul satu dilema yang kerap terulang saban tahun, persoalan etika anak-anak di dalam masjid.

Tidak sedikit anak yang datang dengan penuh antusias. Itu patut disyukuri. Tetapi ketika antusiasme berubah menjadi kegaduhan, berjalan dan berlarian di antara saf, melintas di tempat sujud seenaknya, bercanda saat imam melantunkan ayat suci maka kekhusyukan jamaah pun terganggu.

Masjid adalah rumah Allah, tempat kita belajar adab sebelum ilmu. Anak-anak tentu belum sepenuhnya memahami itu.

Mereka masih dalam proses belajar. Di sinilah peran orang tua, khususnya para ayah, menjadi sangat penting.

Mengajak anak ke masjid adalah langkah baik. Tetapi mengawasi dan membimbing mereka adalah kewajiban yang tak boleh ditinggalkan.

Jangan sampai masjid menjadi tempat bermain tanpa batas. Jangan pula membiarkan anak merasa bebas tanpa aturan hanya karena suasana Ramadan sedang semarak.

Baca Juga  Api, Lahan, dan Jejak Sosial Karhutla

Orang tua seharusnya lebih peduli dan tegas dalam mengawasi anak masing-masing. Ketegasan bukan berarti keras, tetapi hadir, memperhatikan, dan menegur dengan bijak ketika diperlukan.

Bahkan bila perlu, setiap selesai salat anak dipanggil, ditanyai, dan dinasehati. Tanyakan apa yang ia pahami, bagaimana sikapnya di dalam masjid, dan ingatkan bahwa rumah Allah harus dihormati.

Ramadan adalah sekolah akhlak. Bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi orang tua. Momentum ini seharusnya menjadi ajang mendidik generasi agar mencintai masjid dengan adab, bukan sekadar hadir tanpa makna.

Kita tentu ingin masjid tetap penuh, bukan hanya di awal Ramadan, tetapi hingga akhir bahkan selepas Ramadan berlalu. Namun lebih dari itu, kita juga ingin masjid dipenuhi oleh jamaah yang tidak hanya ramai, tetapi juga beradab.

Karena keberkahan Ramadan bukan hanya tentang banyaknya orang yang datang, melainkan tentang kualitas hati yang pulang dengan lebih baik.