INGATLAH.COM – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau kembali mendapat laporan kemunculan harimau Sumatra di Desa Benteng, Kabupaten Siak. pada 6 Februari 2026.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan pihaknya langsung menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan penelusuran jejak.
“Pada tanggal 6 Februari 2026, tim langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan di tempat kejadian perkara usai menerima laporan dari masyarakat terkait dugaan kemunculan harimau di Desa Benteng, Kabupaten Siak,” ujar Ujang, Senin, 9 Februari 2026.
Tim BBKSDA Riau yang terdiri dari petugas tingkat resort serta Seksi Wilayah IV Bidang Wilayah II melakukan penelusuran di lokasi.
Dari hasil pengecekan, ditemukan jejak satwa yang diyakini merupakan harimau Sumatra.
“Di lapangan kami menemukan jejak dengan lebar sekitar 18 sentimeter. Berdasarkan ciri dan ukuran, kami memastikan jejak tersebut merupakan jejak harimau Sumatra,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi, BBKSDA Riau telah memasang kamera jebak (camera trap) di sekitar lokasi. Ujang menyebutkan, upaya serupa sebelumnya juga pernah dilakukan.
“Sebelumnya, pada 22 Januari 2026, kami sudah memasang camera trap di lokasi lain yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik laporan pertama. Namun saat itu belum mendapatkan hasil rekaman harimau,” ungkapnya.
Pemasangan camera trap kembali dilakukan setelah adanya laporan baru terkait ternak warga yang diterkam.
“Pada laporan tanggal 6 Februari, warga menyampaikan adanya dua ekor ayam ternak dan satu ekor anak kucing yang diterkam. Atas dasar itu, kami kembali memasang camera trap di lokasi kedua,” kata Ujang.
Ia menambahkan, pada Sabtu 7 Februari 2026, tim masih terus melakukan pemantauan di lapangan hingga melakukan pemasangan camera trap dilokasi baru serta pemantauan menggunakan drone.
“Tim dilapangan masih melakukan pengecekan. Untuk sementara belum mendapatkan hasil dari camera trap. Mudah-mudahan dalam pengecekan berikutnya sudah ada gambaran yang lebih jelas,” ujarnya.
Ujang menjelaskan, lokasi kemunculan harimau berada di area penggunaan lain (APL) dan berjarak sekitar 1,3 kilometer dari kawasan hutan. Meski demikian, wilayah tersebut memang termasuk jalur pergerakan alami harimau Sumatra.
“Berdasarkan data kami, lokasi tersebut merupakan wilayah jelajah harimau Sumatra. Walaupun berada di area APL, secara ekologi memang termasuk jalur pergerakan satwa,” jelasnya.
Terkait usia satwa khas Sumatera itu, Ujang menyebutkan dari rekaman CCTV milik warga, diduga masih berusia remaja. Namun, pihaknya belum dapat memastikan karena belum ada rekaman pembanding yang jelas.
“Dari CCTV warga, secara visual kami menduga itu harimau remaja. Namun kami belum bisa memastikan karena belum ada gambar pembanding dari camera trap,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa kemunculan harimau tersebut terbilang tidak teratur atau acak.
“Sejak 22 Januari hingga 29 Januari tidak ada kemunculan. Kemudian baru muncul lagi pada 6 Februari. Artinya frekuensinya cukup jarang dan tidak terus-menerus,” ungkap Ujang.
Meski demikian, BBKSDA Riau tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang tidak berkelompok yang berisiko pada jam aktif harimau serta memasukan ternak dan menutup agar tidak memancing satwa tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan antisipasi. Petugas bersama TNI dan Polri juga terus bersiaga dan melakukan upaya mitigasi di lokasi,” tegasnya.
Apabila dari hasil pemantauan lanjutan harimau masih terdeteksi berkeliaran, BBKSDA Riau tidak menutup kemungkinan akan mengambil langkah lanjutan.
“Jika tingkat kemunculan dan frekuensinya meningkat, salah satu opsi yang bisa dilakukan adalah pemasangan box trap. Namun semua akan kami ukur dan pertimbangkan berdasarkan hasil pemantauan,” pungkas Ujang.





