Serbaneka

Seni dan Krisis Ekologi, Pameran Silotigo di Ke Rumah Nan Tumpah #10

×

Seni dan Krisis Ekologi, Pameran Silotigo di Ke Rumah Nan Tumpah #10

Sebarkan artikel ini
Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #10. (Foto: Diah Anggina)

INGATLAH – Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat (Sumbar) Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #10.

Kegiatan ini diadakan tanggal 7-14 Februari 2026, bertempat di Ruang Temu Nan Tumpah, Korong Kasai Padang Pariaman.

KRNT merupakan program rutin Komunitas Seni Nan Tumpah sejak tahun 2017, diharapkan dapat membuka ruang dialogis antara masyarakat di Korong Kasai, Padang Pariaman lewat medium seni.

KNRT kali ini akan diisi dengan sebuah pameran bertajuk Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan.

Pameran ini merupakan presentasi tunggal pertama kolektif Silotigo. Mereka adalah Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil.

Ketiganya bertemu secara kerja artistik pada program Kaba Rupa Galanggang Arang, kemudian kolaborasi berlanjut hingga hari ini. Pada rentang itu, ketiga seniman asal Sumbar ini giat membangun kerja kolaborasi.

“Tema ini merespon kondisi ekologis di Sumatera Barat. Di mana air yang menggenangi kawasan tak hanya dimaknai sebagai sesuatu yang menghanyutkan material. Banjir juga mengingat sekaligus mencatat dampak alih fungsi lahan, penggundulan hutan, pengerukan, dan tata ruang yang tidak mempertimbangkan kondisi ekologis,” ujar Mahatma Muhammad, kurator pameran. (5/2/2026) kemarin.

Sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah berada di dalam lanskap ini. Ia terletak di Perumahan Bumi Kasai Permai, sebuah kawasan di Kabupaten Padang Pariaman yang dibangun sejak tahun 1996 dan mulai ramai dihuni pada 1998.

Sejak masa awal hunian itulah, banjir telah menjadi bagian dari pengalaman kolektif warga. Dengan kata lain, kawasan ini tidak pernah benar-benar bebas dari air.

Genangan bukan peristiwa baru, melainkan kondisi yang menyertai sejarah pemukiman itu sendiri.

Selama satu bulan, kolektif Silotigo—Imam, Olim, dan Boy—menjalani residensi di lokasi tersebut. Ruang kerja mereka menyatu dengan ruang hidup warga, dengan fasilitas yang terbatas dan kondisi yang kerap berubah.

Baca Juga  7 Fakta Keindahan Gunung Talamau, Gunung Tercantik di Pulau Sumatera

Dalam situasi ini, seni tidak diposisikan sebagai aktivitas terpisah, melainkan sebagai medium perjumpaan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Karya-karya yang dihasilkan lahir dari material sisa dan limbah yang ditemukan di sekitar lokasi, serta merespon langsung ruang-ruang warga seperti dinding rumah dan gudang.

“Ketiganya tidak datang sebagai pembawa solusi, pendidik atau pemberi nilai. Mereka hadir sebagai tamu yang perlu membaca situasi sosial, memahami batas, dan menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan warga,” tambah Mahatma.

Menurutnya, krisis lingkungan hari ini lahir dari cara kita memperlakukan alam sebagai sesuatu yang bisa dipisah-pisah dan diambil manfaatnya.

Perencanaan ruang memutus hubungan hulu dan hilir, sementara pengetahuan lokal diabaikan. Alam takambang jadi guru, kadang hanya direnungi ketika bencana datang.

Karena itu, ruang pamer hadir di wilayah yang hidup dengan ingatan banjir dan ketidakpastian, tempat seni berjalan berdampingan dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

Anton, ketua RT 4 di lokasi sekretariat Nan Tumpah menyampaikan dukungannya. Kebetulan, rumahnya juga adalah salah satu yang dimural oleh ke-3 seniman residensi.

“Kami dan seluruh tokoh masyarakat mendukung kegiatan ini. Kehadiran kegiatan seni di lingkungan ini harapannya bisa memperkuat kekompakan dan rasa peduli antar warga,” ujarnya.

Boy Nistil, perupa asal Solok sekaligus anggota kolektif Silotigo, menjelaskan bahwa penggunaan material limbah dari sekitar lokasi merupakan pilihan sadar dalam proses berkarya.

Baginya, seni dapat mengubah benda-benda yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang bermakna.

Pengalaman bekerja secara kolektif dan berbaur dengan warga bukan hal baru untuknya, mengingat ia mendirikan kolektif seni rupa Kaday Loket di Solok.

Baca Juga  3,37 Persen, Alarm yang Tidak Boleh Dianggap Biasa

Tantangan yang paling terasa selama residensi di Padang Pariaman adalah penyesuaian suhu, yang mencapai 30 hingga 32 derajat Celsius setiap hari.

Kondisi serupa juga dialami oleh Imam Teguh Sy, anggota Silotigo yang berdomisili di Padang Panjang.

Ia menyebut suhu sebagai salah satu tantangan selama proses residensi. Selebihnya, aktivitas berinteraksi dengan warga telah menjadi bagian dari praktik kerjanya.

Proses berkarya berlangsung di ruang hidup masyarakat, di tengah kehadiran anak-anak Kelana yang mengikuti kelas seni, serta percakapan dengan warga lanjut usia yang kerap mempertanyakan aktivitas dan arti nama dari Silotigo.

Olimsyaf Putra Asmara menyampaikan bahwa pameran ini akan menampilkan karya individual masing-masing perupa serta karya kolaborasi yang dihasilkan selama masa residensi.

Selama tujuh hari pelaksanaan pameran, ketiga perupa Silotigo juga akan melakukan live painting di atas kanvas berukuran besar yang dipasang di halaman Ruang Temu Nan Tumpah.

Selain itu, Silotigo diminta untuk membuat sampul visual lagu Kelana.

“Secara khusus, Nan Tumpah meminta kami bertiga merespons lagu Kelana dalam bentuk visual. Setiap hari lagu itu kami putar berulang-ulang saat bekerja untuk meresapi semangatnya,” ujar Olim.

Rangkaian Ke Rumah Nan Tumpah #10 juga menghadirkan Zona (Ny)Aman Seni, yakni presentasi hasil belajar semester kedua Kelana Akhir Pekan yang berlangsung pada Oktober 2025 hingga Februari 2026.

Sebanyak 56 anak dari sekitar sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah terlibat dalam gelar karya ini. Mereka selama satu semester telah mengikuti berbagai kelas, mulai dari silek, seni rupa, musik, tari, teater, hingga menulis kreatif.

Nantinya akan ada pertunjukan siswa Kelana Akhir Pekan, pameran karya siswa Kelana, dan peluncuran buku fiksi siswa Kelana. (*)