INGATLAH – Bagi Sandika (32), sore itu bukanlah waktu yang biasa. Di sudut kandang sederhananya di Jorong Jaya Mulya, Nagari Sipangkur, Kabupaten Dharmasraya ia menemukan sebutir benda bulat yang masih terasa hangat.
Telur pertama sebuah pencapaian kecil yang sanggup menerbitkan senyum lebar di wajah bapak tiga anak ini.
Sejak Sabtu (20/12), keseharian Sandika berubah total. Mantan buruh panen sawit ini kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan 100 ekor ayam petelur.
Sebuah jalan hidup baru yang ia tempuh setelah kondisi kesehatan memaksanya berhenti dari pekerjaan fisik yang berat.
Sandika adalah satu dari sekian banyak warga yang merasakan manfaat program One Village One Product (OVOP) yang digagas Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani.
Program ini sengaja menyasar warga yang membutuhkan peluang ekonomi berkelanjutan tanpa menuntut tenaga fisik berlebih.
“Alhamdulillah, telur pertama ini membawa kebahagiaan bagi kami. Ini memulihkan harapan kami akan sumber penghasilan rutin untuk menghidupi keluarga. Terima kasih kepada Ibu Bupati Annisa atas bantuannya,” ungkap Sandika penuh syukur saat menunjukkan hasil perdana ternaknya.
Bagi Sandika yang harus rutin berobat ke Padang, beternak ayam petelur adalah jawaban atas doa-doanya.
Dengan estimasi produksi tiga eggtray per hari, ia berpotensi mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp1,5 juta per bulan—sebuah angka yang sangat berarti untuk menyambung hidup di tengah keterbatasan fisik.
Sinergi Pemimpin dan Ketelatenan Warga
Program OVOP ini bukan sekadar memberi bantuan lalu pergi. Di Nagari Sipangkur, Wali Nagari Arif Gumensa turun tangan langsung menjadi mentor bagi warganya.
Ia yang juga memiliki latar belakang peternak, memastikan 15 rumah tangga penerima bantuan (total 1.500 ekor ayam) mendapatkan pendampingan teknis yang tepat.
“Saya merasa sangat bertanggung jawab menyukseskan program ini. Ide ini lahir dari diskusi bersama Ibu Bupati untuk menyentuh kebutuhan riil masyarakat,” jelas Arif Gumensa.
Untuk menjamin keberlanjutan usaha warga, Bupati Annisa juga menyediakan mesin pembuat pakan mandiri.
Hal ini bertujuan agar para peternak kecil seperti Sandika tidak tercekik harga pakan pabrikan yang fluktuatif, sehingga margin keuntungan mereka tetap terjaga.
Kisah Sandika adalah potret bagaimana ketelatenan seorang warga bertemu dengan kejelian kebijakan pemimpin.
Di balik aroma pakan dan riuhnya suara ayam, sebuah masa depan yang lebih mandiri kini tengah dirajut di bumi Dharmasraya. (*)





