INGATLAH – Di tengah sibuknya komunitas relawan, BPBD, dan berbagai organisasi kemanusiaan berjibaku menembus wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat (Sumbar).
Satu elemen penting justru tidak terlihat di lapangan, tim relawan kebencanaan dari Universitas Andalas (Unand).
Hal tersebut disampaikan oleh awak media, salah satunya Mardi Rosa dari jurnalis televisi Nusantara TV.
Ia mengatakan, ketiadaan relawan dari kampus terbesar di Sumbar ini menimbulkan pertanyaan besar.
“Terutama karena beberapa waktu lalu Unand baru saja menerima bantuan signifikan berupa satu unit perahu karet jenis LCR lengkap dengan mesin tempel dan perlengkapannya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” terang Mardi dan menambahkan bahwa bantuan tersebut diserahkan melalui seremoni resmi di lingkungan kampus.
Dikatakan Mardi, pemberian perahu karet itu sejatinya berawal dari permohonan resmi yang diajukan oleh Mapala Unand, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang memiliki rekam jejak panjang dalam operasi SAR dan penanggulangan bencana di wilayah Sumbar.
“Mapala mengajukan perahu karet tersebut sebagai sarana penting untuk mobilitas dan respons cepat di daerah rawan banjir,” jelasnya.
“Namun, perahu karet yang diperuntukkan bagi operasi lapangan Mapala Unand justru dilaporkan berpindah tangan ke pihak manajemen Universitas Andalas,” sambungnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kampus mengenai alasan perubahan alokasi aset vital kebencanaan ini.
Melihat kondisi ini, awak media mencoba mengkonfirmasi ke Unand.
Sementara itu, Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Andalas, Fauzan mengaku bahwa pihaknya tidak menerima perahu karet dari BNPB.
“Kami tidak menerima perahu karet dari BNPB,” katanya.
Sementara relawan independen terus bekerja keras menyalurkan bantuan dan mengevakuasi korban, keengganan atau ketidakmampuan Unand dalam mengerahkan sumber daya yang ada menjadi sorotan.
Awak-awak media telah berupaya mengonfirmasikan mengenai tidak adanya keterlibatan tim Rescue Unand dalam operasi evakuasi.
Rektor Unand, Efa Yonnedi dihubungi melalui pesan WhatsApp Jumat (12/12/2025) lalu, namun hingga kini belum memberikan tanggapan resmi.
Kondisi ini menimbulkan harapan agar seluruh potensi relawan, termasuk dari perguruan tinggi yang memiliki kapasitas besar dan telah menerima dukungan peralatan seperti Unand, dapat segera hadir di lapangan untuk memperkuat upaya penanganan bencana yang sangat dibutuhkan masyarakat Sumbar. (*)





