INGATLAH.COM – Kementerian Agama kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi edukatif di program Bimbingan Perkawinan (Bimwin).
Salah satu terobosan yang kini viral di berbagai platform digital adalah “Tepuk Sakinah”, sebuah metode interaktif untuk mengingat lima pilar keluarga sakinah melalui format tepuk tangan mirip yel-yel pramuka.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa pendekatan ini dirancang bukan sekadar untuk hiburan, tetapi sebagai alat bantu penyederhana materi pra-nikah yang selama ini dinilai terlalu formal.
“Melalui Tepuk Sakinah, pilar keluarga sakinah lebih mudah diingat dan suasana pembekalan menjadi lebih hidup,” ujar Abu Rokhmad dikutip dari laman resmi Kemenag RI.
Apa Itu Tepuk Sakinah?
Tepuk Sakinah merupakan metode edukasi partisipatif berbasis gerak dan syair.
Konsepnya sederhana: pemahaman mendalam dibungkus dengan cara bermain.
Liriknya disusun dari lima prinsip dasar rumah tangga islami, lalu dikemas dalam format tepukan tangan agar mudah diingat oleh peserta pelatihan calon pengantin.
Metode ini efektif karena:
Mencairkan suasana pelatihan yang cenderung kaku
Mendorong partisipasi aktif peserta
Mengubah nilai moral menjadi pengalaman emosional.
Lirik Resmi “Tepuk Sakinah”
Berpasangan … Berpasangan … Berpasangan (tepuk 3x)
Janji Kokoh … Janji Kokoh … Janji Kokoh (tepuk 3x)
Saling Cinta
Saling Hormat
Saling Jaga
Saling Ridho
Musyawarah untuk Sakinah
Syair Makna Nilai Pernikahan
Berpasangan (Zawaj) Pernikahan adalah penyatuan dua insan untuk saling melengkapi.
Janji Kokoh (Mitsaqan Ghalidzan) Komitmen pernikahan adalah janji sakral yang harus dijaga.
Saling Cinta – Hormat – Jaga – Ridho Kasih sayang dan penghormatan sebagai fondasi interaksi sehari-hari.
Musyawarah Setiap keputusan rumah tangga harus diambil bersama, bukan sepihak.
Tepuk Sakinah bukan pengganti materi bimbingan pra-nikah, tetapi penguat pesan moral.
Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa edukasi keluarga bisa disampaikan secara ringan tanpa kehilangan esensi.
Pada akhirnya, membangun rumah tangga harmonis bukan hanya soal teori, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai luhur ditanam sejak awal — bahkan melalui sebuah tepukan tangan.





