Berita

Pakar Kesehatan Unand Soroti Pengelolaan MBG di Jepang Lebih Terkontrol

×

Pakar Kesehatan Unand Soroti Pengelolaan MBG di Jepang Lebih Terkontrol

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi MBG. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi MBG. (Foto: Istimewa)

INGATLAH – Kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi (MBG) yang menimpa 86 warga di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dinilai oleh kalangan akademisi sebagai momentum penting untuk mengevaluasi total sistem pengelolaan makanan di Indonesia.

Dr. Mohamad Reza, Ph.D, Pakar Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) membeberkan perbandingan dengan sistem pengelolaan makanan sekolah yang diterapkan di Jepang yang dinilai jauh lebih terkontrol.

Sistem Jepang Lebih Terjamin Kualitasnya

Dr. Mohamad Reza, yang pernah menempuh pendidikan di Jichi Medical University, Jepang, melihat adanya perbedaan mendasar pada sistem kontrol kualitas.

Menurutnya, besarnya volume makanan yang harus disiapkan oleh satu pengelola di Indonesia berpotensi memicu kelalaian dan kontaminasi.

“Di Jepang, kualitasnya lebih terjaga karena pengelola tidak menyiapkan makanan dalam jumlah terlalu besar. Satu pengelola biasanya hanya bertanggung jawab untuk satu atau dua sekolah saja. Itu membuat kontrol kualitas lebih terjamin,” ungkapnya, Jumat (3/10/2025).

Baca Juga  Makan Bergizi Gratis di SDN 09 Air Pacah Padang, Murid: Enak Banget

Ia menegaskan, sistem pengelolaan MBG di Indonesia perlu dievaluasi agar insiden keracunan serupa tidak terulang.

“Ke depan, sebaiknya ada evaluasi cara pengelolaan MBG. Tujuannya agar lebih higienis dan bisa mencegah keracunan serta dampak buruk lainnya,” pungkasnya.

Tiga Celah Utama Penyebab Keracunan

Dr. Mohamad Reza juga memberikan penjelasan mengenai kemungkinan penyebab terjadinya keracunan massal.

Secara umum, keracunan makanan paling sering dipicu oleh kontaminasi bakteri meski virus, jamur, atau zat kimia juga bisa menjadi pemicu.

Ia menguraikan tiga faktor utama yang berpotensi menjadi celah kontaminasi dalam kasus makanan massal seperti MBG:

Baca Juga  Lahan Gambut di Dumai Terbakar, Petugas Kesulitan Padamkan Api

1.  Kualitas Bahan Baku yang Buruk. Bahan makanan yang tidak segar atau sudah terkontaminasi bakteri sejak awal dapat tetap membahayakan meskipun telah dimasak.

“Bisa jadi bahan-bahannya sudah tidak segar lagi sehingga terinfeksi bakteri atau kuman tertentu. Walaupun sudah dimasak, makanan tetap bisa tidak layak konsumsi,” ujarnya.

2.  Lalai Menjaga Kebersihan. Besarnya volume makanan yang harus disiapkan kerap membuat pengelola kewalahan dan lalai dalam menjaga kualitas proses persiapan.

3.  Kontaminasi Serangga. Kelalaian dalam proses dapat membuat makanan rentan dihinggapi serangga.

“Kadang karena jumlah yang disiapkan banyak, pengelola lalai sehingga makanan yang diproses bisa dihinggapi serangga seperti lalat. Serangga ini bisa membawa bakteri dan mengkontaminasi makanan,” tambahnya. (*)