INGATLAH – Fenomena guru yang membuat konten video di dalam kelas, seringkali melibatkan murid-murid tanpa izin, semakin ramai disorot di media sosial.
Banyak netizen menganggap praktik ini sudah kelewat batas dan mengikis privasi anak-anak, mengubah momen belajar menjadi bahan hiburan demi popularitas.
Seruan untuk menghentikan normalisasi ini pun semakin kuat, menuntut para pendidik lebih bijak dalam menggunakan teknologi.
Kritik tajam datang dari berbagai kalangan, terutama orang tua dan pendidik itu sendiri, yang merasa praktik ini sudah meresahkan.
Konten yang awalnya bertujuan positif, seperti berbagi momen unik di kelas, kini bergeser menjadi ajang eksistensi yang mengabaikan hak-hak anak.
“Nah ini, gw kurang suka konten-konten guru lagi ngajar sambil ngonten. Kalo di luar jam pelajaran atau istirahat sih enggak apa-apa,” ujar seorang netizen yang peduli dengan fokus belajar murid.
Kekhawatiran lain muncul terkait konten yang terkesan merendahkan, seperti mengekspos hasil karya anak.
“Setuju banget. Apalagi misalnya hasil karya gambar anak-anak SD kelas 1-3. Kenapa harus di-upload sama guru coba dan di-judge? Perlu banget eksis?” kritik netizen lain.
Seorang tenaga pendidik ikut angkat bicara dan menyatakan persetujuannya. Ia menekankan pentingnya kontrol diri di tengah derasnya arus teknologi.
“Maaf tapi saya setuju ya sebagai tenaga pendidik. Kita boleh ngikuti zaman tapi jangan sampai terpengaruh dengan teknologi yang buat kita ngikut arus. Perlu kontrol diri kita jangan buat anak-anak terdistrak untuk ikut aktif di sosmed, padahal seumur mereka harusnya terfokus dengan apa yang seharusnya dialami pada masa mereka seperti bermain dan belajar,” tegasnya.
Puncak dari kegelisahan ini adalah saat anak-anak diekspos dalam kondisi yang membuat mereka tidak nyaman.

Salah satu contoh yang paling disorot adalah konten video di mana seorang guru meminta murid-muridnya menunjukkan bekal makanan mereka satu per satu.
“Setuju banget! Apalagi sekarang berseliweran konten-konten dari guru yang muridnya dipaksa kasih lihat bekal satu persatu, enggak tahu gunanya apa dengan buat konten kayak gitu,” ujar seorang netizen.
“Yang jelas ada anak yang dengan bekal seadanya merasa kurang nyaman. Contohnya aja bekal ulat sagu yang kemarin sempat viral, sampai si adeknya kesorot banget dan itu enggak layak sama sekali. Anak-anak punya ruang privasi, biarkan murid makan dengan tenang!” tutupnya.
Polemik ini membuka kembali diskusi penting tentang etika dan batasan penggunaan media sosial bagi para pendidik.
Menjadikan murid sebagai objek konten bukan hanya melanggar privasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis negatif.
Masyarakat mendesak adanya aturan tegas dan kesadaran dari para guru untuk lebih menghargai ruang belajar sebagai zona aman dan privasi bagi setiap murid. (*)





