Solok – Kota Solok kembali menjadi tuan rumah perhelatan dua tahunan Tenggara Festival yang memasuki edisi ketiga pada tahun 2025.
Dengan mengusung tema “Tidak Kayu, Tangga Dikeping”, festival ini berlangsung dari 1 hingga 10 Agustus 2025 dan menghadirkan beragam program seni, diskusi, hingga kolaborasi komunitas lintas sektor.
Tema Tidak Kayu, Tangga Dikeping menjadi metafora akan daya tahan dan kreativitas warga di tengah keterbatasan.
Tema ini lahir dari perjumpaan langsung dengan komunitas-komunitas lokal seperti kelompok tani, seniman, pembuat film, penggiat lingkungan, pembatik, hingga komunitas motor yang selama ini aktif berkegiatan meski dengan sumber daya terbatas.
“Tenggara Festival 2025 melanjutkan semangat dua edisi sebelumnya. Tahun ini cakupan program semakin luas,” ujar M. Badri, salah satu kurator Tenggara Festival.
Selama 10 hari, festival menyebar di 9 titik lokasi di Kota Solok, seperti Rumah Tamera, Gallery 88, Satusatusembilan Space, Naluri Coffee, RN Coffee, Parak Batuang Space, Galanggang Raya Farm, MIS Kampung Jawa, hingga Pusako Tinggi Project.
Festival melibatkan kurang lebih 60 seniman dan kelompok seni, serta menghadirkan 10 titik mural dan graffiti.
Beberapa kegiatan unggulan dalam festival ini antara lain:
- Pameran dan Street Art Jamming
- Tenggara Mart dan Dapur Kasih Sayang oleh Serikat Gudang Peluru
- Pertunjukan musik dari Tuan Kembara (Tikalak), Egi dan Beda Barat (Padang Panjang), Rani Jambak (Agam), hingga Tomy Bollin dan Siboy Music (Solok)
- Program anak-anak “Tenggara Kids” oleh Satelit Art Club – Solok
- Motorcycle Riding: Ride, Pray & Plant di Rumah Tamera
- Pemutaran film dan diskusi oleh Sawala Sinema di SMKN 1 Solok
- Pameran 100 Poster dan bincang karya di Naluri Coffee
- Simposium di RN Coffee yang mengangkat isu pertanian sehat, kedaulatan pangan, hingga nilai budaya.
Tenggara Festival bukan sekadar perayaan seni, melainkan ruang bersama untuk memperkuat akar kolektivitas warga.
Menurut Ketua Komunitas Gubuak Kopi, Albert Rahman Putra, festival ini adalah proses belajar bersama dan bentuk keberdayaan masyarakat dalam membentuk kotanya sendiri.
“Festival ini bukan hanya tentang seni, tapi tentang hidup bersama di kota yang ingin terus belajar menjadi lebih baik,” ujarnya.
Berbeda dari festival mainstream, Tenggara hadir dari keseharian: tanpa panggung mewah, tanpa jarak antara penampil dan penonton.
Ia tumbuh dari kedekatan, kebersamaan, dan proses panjang yang melibatkan warga sebagai aktor utama.
Tenggara Festival 2025 menjadi ruang kolektif, bukan hanya untuk merayakan warisan budaya, tetapi juga membangun masa depan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan melalui seni, dialog, dan aksi nyata. (*)





