BeritaPekanbaru

Aura Farming Pacu Jalur Meriahkan CFD di Pekanbaru

×

Aura Farming Pacu Jalur Meriahkan CFD di Pekanbaru

Sebarkan artikel ini

INGATLAH – Momen Car Free Day (CFD) di Jalan Gajah Mada Pekanbaru terlihat lebih menarik dengan disuguhkan pertunjukan budaya Aura Framing Pacu Jalur, Minggu (6/7/2025).

Terlihat, tradisi Pacu Jalur yang biasanya hanya bisa disaksikan di Sungai Kuantan kini hadir dengan nuansa berbeda di jantung Kota Pekanbaru.

Digelar sebagai bentuk pelestarian budaya lokal, pertunjukan ini menampilkan perahu jalur khas Kuansing yang dihadirkan secara simbolik lengkap dengan ornamen tradisional, kostum adat, dan iringan musik khas Melayu.

Pertunjukan ini menyulap kawasan CFD menjadi panggung budaya yang menghibur sekaligus menyadarkan publik akan pentingnya merawat kearifan lokal.

Baca Juga  Fadly Amran Bahas Potensi Nasi Padang dan Strategi Gastronomi di Ideafest 2026

Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, hadir langsung menyapa masyarakat. Dalam arahannya, ia mengapresiasi kreativitas penyelenggara yang mampu membumikan budaya Riau di ruang terbuka kota.

“Aura Framing Pacu Jalur ini bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga sarana edukasi budaya dan perekat sosial. Tradisi ini mengajarkan kita semangat kebersamaan, kerja sama, dan cinta terhadap warisan leluhur,” ujar Kapolda, Minggu, (6/7/2025).

Irjen Herry menambahkan kehadiran budaya ke ruang publik seperti ini menjadi strategi penting dalam menjaga identitas daerah di tengah derasnya arus modernisasi.

Ia berharap pertunjukan semacam ini bisa terus dikembangkan dan rutin digelar agar generasi muda tidak kehilangan kedekatan dengan budaya sendiri.

Baca Juga  Riau Bhayangkara Run 2025 Bakal Dibuka Kapolri

“Masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga diajak merasakan. Inilah wujud nyata pelestarian budaya yang hidup, dinamis, dan membumi,” tambahnya.

Antusias Pertunjukan Framing Pacu Jalur ini terbukti mencuri perhatian publik. Banyak warga yang berhenti berolahraga sejenak untuk menikmati pertunjukan, mengabadikannya lewat kamera ponsel, hingga mengajak anak-anak mereka mengenal tradisi leluhur.

“Lebih dari sekadar hiburan, acara ini menjadi cerminan bahwa warisan budaya bukan untuk dikenang semata, tetapi dirayakan bersama dalam kehidupan masa kini agar terus menjaga identitas daerah,” tutupnya.(*)