PekanbaruBeritaRiauUtama

Menguak Pungli di Balik Retribusi, Kompol Bery Diganjar Penghargaan Walikota Pekanbaru

×

Menguak Pungli di Balik Retribusi, Kompol Bery Diganjar Penghargaan Walikota Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
Kompol Bery Juana Putra menerima penghargaan dari Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, pada peringatan HUT ke-241 Kota Pekanbaru, Senin (23/6/2025). Di balik seremoni itu, tersimpan kisah senyap tentang keberanian menantang pungli di lorong-lorong kota. (Foto: Istimewa)
Kompol Bery Juana Putra menerima penghargaan dari Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, pada peringatan HUT ke-241 Kota Pekanbaru, Senin (23/6/2025). Di balik seremoni itu, tersimpan kisah senyap tentang keberanian menantang pungli di lorong-lorong kota. (Foto: Istimewa)

“Sampah memang harus dibersihkan. Tapi oknum pungli lebih dulu,” Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Bery Juana Putra

INGATLAH – Pagi hari di Pekanbaru selalu dimulai dengan deru kendaraan, kabut tipis, dan deretan gerobak sampah yang perlahan menyusuri gang-gang perumahan. Bau menyengat bercampur embun kota membentuk aroma yang akrab, namun tak pernah benar-benar diterima.

Di balik tumpukan plastik, kardus, dan sisa makanan, ada sesuatu yang tak tampak: rasa jengkel warga atas pungutan yang tak pernah mereka mengerti.

Di pasar-pasar tradisional, para pedagang menggulung tenda sambil menghitung hasil jualan. Tapi di sela itu, mereka juga menyisihkan uang untuk “kebersihan” — tak tahu pasti kepada siapa, untuk apa, dan berapa semestinya. Tak ada kuitansi. Tak ada kejelasan. Hanya kewajiban diam-diam yang sudah berlangsung terlalu lama.

Sementara itu, di sebuah ruang kecil di markas Polresta Pekanbaru, peta-peta wilayah tergantung di dinding. Di meja kerja yang dipenuhi dokumen dan catatan tangan, Kompol Bery Juana Putra membaca ulang laporan warga. Keluhannya senada: “Kami bayar, tapi sampah tetap menumpuk. Kami protes, tapi dianggap remeh.”

Baca Juga  Pelaku Penganiayaan Maut di Jalan Siak 2 Rumbai Ternyata Menyerahkan Diri ke Polisi

Ia tahu, ini bukan perkara besar di mata banyak orang. Tapi bau busuk sistematis tak bisa ditutupi dengan tumpukan bunga di acara kota. Ia mulai menyusun langkah. Bukan operasi dengan sirine dan borgol mencolok, tapi penyelidikan senyap. Merekam, mencatat, menelusuri.

Beberapa pekan kemudian, satu per satu oknum yang memungut retribusi liar berhasil diidentifikasi dan ditindak. Di antara mereka, ada yang memakai seragam, ada yang hanya berbekal lencana informal kekuasaan di tingkat terbawah.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-241 Kota Pekanbaru, 23 Juni 2025, sebuah pemandangan tak biasa terjadi di halaman Kantor Wali Kota.

langit Pekanbaru biru dan bersih. Namun yang terasa bersih justru bukan hanya cuaca, melainkan sesuatu yang lebih dalam: pengakuan bahwa kota ini sedang belajar menolak kejahatan yang biasa.

“Kadang untuk membersihkan kota, tidak cukup dengan sapu. Kita butuh keberanian menindak yang menyimpang,” ujar Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, saat menyerahkan penghargaan.

Kompol Bery, dalam keterangannya, menyebut pungli sekecil apa pun bentuknya adalah racun yang merusak wajah pelayanan publik.

Baca Juga  WNA Asal Malaysia Bawa Obat Mencurigakan, Polisi Bebaskan Karena ini!

Ia menyampaikan bahwa langkah ini adalah bagian dari kerja kolektif tim Satreskrim, yang berkomitmen menjaga agar kota tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga bersih dalam sistem.

“Sampah memang harus dibersihkan. Tapi oknum pungli lebih dulu,” katanya singkat, namun sarat makna.

Langkah ini memicu perbincangan di antara pejabat dan warga kota. Banyak yang mengaku baru menyadari bahwa perjuangan melawan korupsi bisa dimulai dari hal yang dianggap sepele.

Bukan dari meja pengadilan yang megah, tapi dari lorong-lorong sempit tempat sampah dikumpulkan.

“Kebersihan kota tak bisa dicapai jika yang membersihkan justru ikut mengotori sistem,” ucap Kompol Bery dalam satu sesi wawancara. Suaranya tenang, tapi sorot matanya tajam, seolah menantang siapa pun yang ingin menguji integritas hukum di tempat yang dianggap tak penting.

Warga mungkin tidak mengingat semua nama pejabat. Tapi mereka akan mengingat siapa yang berani bertindak, bahkan ketika masalahnya tampak sepele. Karena di kota mana pun, korupsi kecil adalah bibit dari ketidakadilan besar. (Ingatlah)