INGATLAH – Mata uang euro mencatat kenaikan signifikan pada Rabu (12/3/2025), mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Penguatan ini didorong oleh kesepakatan gencatan senjata satu bulan di Ukraina serta rencana kebijakan tarif impor baru yang dicanangkan Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan laporan Reuters, euro mencapai nilai tertinggi sejak Oktober 2024 dalam perdagangan di New York dengan kurs US$1.0947, sebelum stabil di sesi Asia di angka US$1.0913.
Sementara itu, rubel Rusia juga menunjukkan tren positif, mencatat kenaikan tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Pasar Saham Eropa Menguat, AS Berikan Dukungan ke Ukraina
Kenaikan nilai euro sejalan dengan optimisme pasar saham Eropa. Kontrak berjangka ekuitas di bursa Eropa naik 0,8 persen, sementara indeks FTSE mengalami kenaikan 0,3 persen.
Penguatan ini terjadi setelah AS mengumumkan akan kembali memberikan bantuan militer dan berbagi data intelijen dengan Ukraina guna mendorong Kyev menerima proposal gencatan senjata yang diusulkan Washington. Hingga saat ini, Rusia belum memberikan komentar terkait kesepakatan tersebut.
Dampak Kebijakan Tarif Impor AS terhadap Pasar Keuangan
Selain faktor geopolitik, kebijakan perdagangan AS turut memengaruhi pergerakan mata uang global.
Presiden AS sebelumnya mengancam akan menaikkan tarif impor baja dan aluminium dari Kanada hingga 50 persen.
Namun, rencana ini akhirnya dibatalkan setelah pemerintah Ontario memutuskan untuk tidak menerapkan biaya tambahan pada ekspor listrik ke AS.
Di sisi lain, kebijakan tarif impor yang tidak menentu membuat pasar keuangan AS bergejolak. Nilai dolar AS mengalami pelemahan, sementara obligasi pemerintah Washington juga merosot.
Bursa saham AS pun mengalami tekanan dengan aksi jual terbesar dalam beberapa bulan terakhir akibat ketidakpastian ekonomi yang semakin meningkat.
Analisis: AS Berupaya Menjaga Keseimbangan Ekonomi
Catriona Burns, manajer pendanaan global dari Wilson Asset Management, menilai kebijakan tarif yang diterapkan AS merupakan strategi untuk menjaga keseimbangan ekonomi dalam negeri.
“Dia (Trump) sedang mencoba menyeimbangkan ekonomi agar membawa keuntungan bagi warga Amerika Serikat,” ujar Burns.
Dengan dinamika ekonomi dan geopolitik yang masih berlangsung, pelaku pasar terus mencermati perkembangan kebijakan AS serta dampaknya terhadap mata uang global, termasuk euro yang saat ini berada dalam tren penguatan. (*)





