INGATLAH.COM – Di sebuah rumah sederhana di Kota Ende, Nusa Tenggara Timur, Ir. Soekarno menghabiskan empat tahun masa pengasingannya dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.
Pengasingan ini menjadi periode penting dalam perjalanan hidupnya, di mana ia merumuskan ideologi yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia yaitu Pancasila.
Lokasi: Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur
Status: Cagar Budaya Nasional (CB.28)
Renovasi: Resmi direnovasi pada 23 Juni 2012 dan diresmikan oleh Wakil Presiden Boediono pada 1 Juni 2013
Sejarah Rumah Pengasingan
Rumah ini awalnya dimiliki oleh seorang warga bernama Abdullah Ambuwaru.
Tidak bernomor dan berada di tengah pemukiman sederhana, rumah ini menjadi tempat tinggal Soekarno selama menjalani masa pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengunjungi Ende pada tahun 1951 dan meminta agar rumah tersebut dijadikan museum.
Pada kunjungan berikutnya, 16 Mei 1954, ia meresmikan rumah ini sebagai Situs Bung Karno.
Peran Rumah Pengasingan dalam Sejarah Bangsa
Berbeda dengan tahanan politik lainnya yang dibuang ke Boven Digoel, Belanda sengaja mengasingkan Soekarno ke Ende, jauh dari pendukungnya.
Namun, justru di tempat ini Soekarno mendapat kesempatan merenung dan berinteraksi dengan masyarakat lintas agama.
Ia sering berdialog dengan Pastor Paroki Ende, Gerardus Huijtink, yang turut mempengaruhi pemikirannya.
Dekat rumah pengasingan, terdapat Taman Renungan di mana Soekarno sering duduk di bawah pohon sukun. Dari tempat ini, ia merenungkan dasar negara Indonesia yang kemudian dirumuskan menjadi Pancasila.
Bung Karno pernah berkata:
“Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.”
Meskipun pohon sukun asli tumbang pada tahun 1960, pohon penggantinya tetap menjadi simbol penting dalam sejarah nasional.
Artefak Bersejarah yang Tersimpan
Kini, rumah pengasingan Bung Karno berfungsi sebagai museum yang memamerkan berbagai barang peninggalan sejarah, di antaranya:
- Biola Soekarno, yang sering dimainkan selama masa pengasingannya.
- Naskah tonil (drama) yang ia tulis, termasuk Dokter Setan, Rahasia Kelimutu, dan 1945.
- Tempat tidur dan kursi yang pernah digunakan oleh Soekarno.
- Lukisan-lukisan hasil karya Soekarno.
Selain itu, di Ende juga terdapat makam Ibu Amsi, mertua Soekarno, yang menjadi bagian dari sejarah keluarga Bung Karno di kota ini.
Mengenang Perjuangan di Ende
Mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende bukan hanya sekadar wisata sejarah, tetapi juga kesempatan untuk memahami perjalanan pemikiran sang Proklamator.
Dari kota kecil inilah, gagasan besar tentang Pancasila mulai berakar dan menjadi fondasi bagi bangsa Indonesia yang kita kenal hari ini.
Bagi siapa saja yang ingin menyelami lebih dalam jejak sejarah Indonesia, Ende adalah destinasi yang wajib dikunjungi. (*)





