Gaya Hidup

Pesona Pulau Kemaro Sejarah, Legenda, dan Wisata di Tengah Sungai Musi

×

Pesona Pulau Kemaro Sejarah, Legenda, dan Wisata di Tengah Sungai Musi

Sebarkan artikel ini
Keindahan Pagoda di tengah Pulau Kemaro [Foto:Tripadvisor]
Keindahan Pagoda di tengah Pulau Kemaro [Foto:Tripadvisor]

INGATLAH.COM – Pulau Kemaro, sebuah delta kecil yang terletak di Sungai Musi, Palembang, menawarkan pesona sejarah dan budaya yang memikat.

Berjarak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera, pulau ini berdiri di antara kawasan industri Pabrik Pupuk Sriwijaya, Pertamina Plaju, dan Sungai Gerong.

Dengan luas sekitar 79 hektar dan ketinggian 5 meter di atas permukaan laut, Pulau Kemaro tetap kokoh meski Sungai Musi meluap, menjadikannya pulau yang “kemarau” atau tidak pernah tenggelam.

Jejak Sejarah yang Kuat

Pulau Kemaro memiliki sejarah panjang sejak masa Kerajaan Sriwijaya.

Pulau ini menjadi pos strategis pada masa kejayaan Sriwijaya, bahkan pernah disinggahi Panglima Cheng Ho untuk memberantas perompak laut dari Tiongkok.

Pada era Kesultanan Palembang Darussalam, pulau ini menjadi lokasi Benteng Tambak Bayo, benteng maritim yang menjadi benteng pertahanan penting sebelum kapal memasuki pusat kota.

Meski akhirnya dihancurkan Belanda pada tahun 1821, sejarahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Legenda Cinta Abadi Siti Fatimah dan Tan Bun An

Pulau Kemaro juga terkenal dengan legenda cinta tragis Siti Fatimah, putri raja Palembang, dan Tan Bun An, pangeran dari Tiongkok.

Baca Juga  Pesona Kerajaan Pagaruyung, Warisan Sejarah yang Hidup di Minangkabau

Kisah mereka bermula dari pertemuan di istana Palembang, berkembang menjadi cinta yang dalam hingga membawa mereka ke Tiongkok.

Namun, tragedi terjadi saat Tan Bun An membuang guci-guci berisi emas ke Sungai Musi karena salah paham.

Ketika menyadari kesalahannya, ia terjun ke sungai untuk mengambil emas tersebut tetapi tak pernah kembali.

Siti Fatimah menyusul kekasihnya ke dasar sungai. Sebagai penghormatan, dibangunlah makam mereka di Pulau Kemaro.

Transformasi Pulau Kemaro dari Masa ke Masa

Pulau Kemaro mengalami berbagai perubahan fungsi sepanjang sejarahnya.

Pada 1965-1967, pulau ini digunakan sebagai kamp tahanan politik.

Sejak 1968, pulau ini berkembang menjadi pemukiman dan tempat ibadah, diikuti dengan pemanfaatan sebagai lahan pertanian pada 1998-2007.

Sejak 2008, Pulau Kemaro menjadi destinasi wisata ritual yang menarik ribuan pengunjung.

Daya Tarik Wisata yang Memikat

Pulau Kemaro memiliki Pagoda berlantai sembilan yang menjulang setinggi 45 meter, dibangun pada 2006.

Pagoda ini mencerminkan filosofi Feng Shui dengan delapan sudut yang melambangkan keseimbangan hidup.

Baca Juga  Benteng Marlborough, Jejak Sejarah Kolonial Inggris di Bengkulu

Tak jauh dari pagoda, terdapat Klenteng Hok Tjing Bio yang dibangun pada 1962, serta makam Siti Fatimah dan Tan Bun An yang menjadi simbol cinta abadi.

Selain itu, “Pohon Cinta” di Pulau Kemaro dipercaya membawa keberuntungan bagi pasangan yang mengukir nama mereka di batangnya.

Konon, pasangan tersebut akan langgeng hingga ke jenjang pernikahan, menjadikan pulau ini dikenal sebagai “Pulau Jodoh.”

Meriahkan Cap Go Meh di Pulau Kemaro

Salah satu atraksi paling dinantikan di Pulau Kemaro adalah perayaan Cap Go Meh yang diadakan setiap tahun, bertepatan dengan hari ke-15 setelah Imlek.

Festival ini menghadirkan berbagai atraksi menarik seperti doa bersama, penerbangan lampion, dan pertunjukan barongsai yang memeriahkan suasana malam.

Pulau Kemaro bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah, kisah cinta abadi, dan harmoni budaya yang terjalin di tengah arus Sungai Musi.

Sebuah pulau kecil dengan sejuta cerita besar yang menanti untuk dijelajahi. (*)